TITIK NOL KILOMETER : Antisipasi Tergelincir, Apakah Mengganti Tapal Kuda dengan Karet Jadi Solusi?

Dua kuda penarik andong terpeleset di Titik Nol Kilometer Jogja, Rabu (23/12 - 2015). (Sumber: akun facebook "Sigit Aulia Kurniawan" di grup facebook "info cegatan jogja")
21 Februari 2016 06:21 WIB Jogja Share :

Titik nol kilometer Jogja masih menjadi kawasan yang diwaspadai oleh para kusir andong

Harianjogja.com, JOGJA – Sejak aspal di Titik Nol diubah menjadi batuan andesit, para kusir andong wisata di Malioboro menjadi yang paling terdampak. Keindahan Titik Nol membuat mereka mesti ekstra hari-hari kala melintasi area itu.

Angga Setiawan, 20 salah satu kusir Andong yang biasa mangkal di depan DPRD DIY mengatakan keluhan terhadap titik nol sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak zaman pembangunan. Saat itu sudah mulai terasa licin bagi kuda bersepatu besi, namun belum ada yang sampai terjatuh.

Puncaknya Desember lalu beberapa kuda penarik andong tergelincir. Tak sampai fatal namun cukup membuat para kusir khawatir. Apalagi kuda yang tergelincir menjadi semakin sering. Jauh lebih sering ketimbang saat masih beraspal.

“Tanjakannya juga membuat resiko tergelincir makin besar, makanya harus hati-hati betul kalau lewat sana,” kata dia.

Taufik, 32, kusir yang lain mengungkapkan hal senada. Menurutnya batuan andesit relatif lebih halus ketimbang aspal yang permukaannya lebih kasar. Bagi kendaraan lain mungkin tak masalah. Tapi bagi kuda yang tapalnya terbuat dari besi hal itu menjadi masalah.

Solusi Pemda untuk mencoba mengganti material besi dengan karet pun ditanggapi Taufik dengan nada skeptis. Selama ini dengan tapal besi saja dalam sebulan dia setidaknya harus mengganti dengan yang baru. Dengan tapal karet dia khawatir tapal yang dipakai usianya semakin pendek.

Belum lagi memasang tapal karet untuk kuda yang dipakai setiap hari bukan masalah mudah karena paku yang dipakai untuk menancapakannya akan mudah merobek permukaan karet.

“Bakal cepat ambyar kalau ganti karet, apalagi narik andongnya setiap hari,” kata dia.

Juwandi, 60, memiliki komentar serupa. Mengganti tapal kuda dengan karet dinilainya bukanlah sebuah solusi. Juwandi mengatakan sejak ada kuda terjatuh sebenarnya sudah tak banyak lagi kejadian kuda tergelincir. Pasalnya para kusir sudah mulai mencermati titik-titik mana saja yang relatif aman dilalui.

Selain itu menurutnya titik nol masih bisa dilewati bila cuaca mendukung dan kusirnya ekstra hati-hati. Namun bila beban berlebih mereka biasanya akan mencari rute lain yang lebih landai.

Soal solusi tapal karet dinilai Juwandi tak bisa terlalu diandalkan. Kusir yang sudah puluhan tahun mengemudikan andong ini mengatakan dirinya pernah membuat sendiri tapal kuda dari ban bekas. Namun daya tahannya tak seberapa. Intensitas mengganti tapal baru pun jauh meningkat.

Selain itu mengganti tapal dengan karet juga beresiko menghilangkan suara khas tapak kaki kuda. Dia juga memikirkan bagaimana nasib para pembuat tapal yang selama ini memasok tapal besi bagi kuda-kuda di sepanjang Malioboro.

“Bikin sendiri bisa, tapi cepet rusak. Kasihan pembuat tapal kuda juga, apalagi sekarang juga sudah tak banyak yang bikin,” kata dia.