PENGELOLAAN SAMPAH : Sampah dari Warga Minim, TPA di Karanganyar Tak Terpakai

Permasalahan Sampah (Desi Suryanto/JIBI - Harian Jogja)
22 Februari 2016 15:20 WIB Jogja Share :

Pengelolaan sampah di Kampung Karanganyar berhasil memilah dan mengolahnya, sehingga tempat pembuangan sampah menjadi tidak terpakai

Harianjogja.com, JOGJA – Kota Jogja memiliki metode pengelolaan sampah yang unik dengan mendayagunakan masyarakat setempat. Konsep ini dinamakan bank sampah. Hasilnya tak hanya membuat lingkungan menjadi bersih, masyarakat yang menjadi nasabah pun ikut kecipratan rezeki tambahan berupa uang bulanan.

Jauh sebelum Jogja memulai program Bank Sampah 2013 lalu, warga Kampung Karanganyar RW 16 Brontokusuman Jogja sudah memiliki ide untuk mengelola sampah yang menumpuk di lingkungan mereka.

Dalyono, 52, salah satu pemrakarsa bank sampah di kampung itu baru-baru ini menceritakan, ide itu muncul dari kejengahan warga akan sampah di TPU yang kerap menumpuk 2011 lalu. Sehari saja petugas sampah tak mengambilnya tumpukan sampah menjadi meluap dan baunya tersebar ke udara.

“Dari situ kami berpikir, bagaimana agar sampah tak menumpuk. Lalu ada yang cerita konsep bank sampah di Kulonprogo. Kami langsung studi banding untuk belajar,” beber dia.

Setelah belajar, mereka langsung menerapkannya. Hasilnya rupanya berbuah manis. Warga antusias mengikuti program itu. Mereka bahkan memiliki duta bank sampah yang merupakan seorang nenek berusia lebih dari 70 tahun.

“Beliau aktif sekali, sampai kami jadikan duta karena menyemangati warga lainnya. Tiap minggu pasti setor sampah,” ungkap Dalyono seraya terkekeh.

Konsep bank sampah sebenarnya sederhana. Di rumah masing-masing warga melakukan pemilahan sampah, antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik dibuang ke TPU sementara sampah anorganik berupa kantong kresek, botol plastik, pecahan beling sampai lembaran kertas disetor setiap minggu ke bank sampah.

Setiap sampah anorganik kemudian ditimbang dan dicatat petugas bank sampah yang merupakan relawan dari warga setempat. Setiap akhir bulan, sampah anorganik yang terkumpul lantas dijual ke pengepul. Uangnya dicatat dan disimpan di rekening setiap nasabah tergantung jumlah sampah yang mereka setorkan setiap minggu.

Dalam sebulan, bank sampah kampung Karanganyar RW 16 bisa mengumpulkan lebih dari satu ton sampah anorganik. Dari timbunan sampah itu, mereka bisa mendulang keuntungan dari penjualan sampah sebesar lebih dari satu juta rupiah.

Dalyono menuturkan, setelah dihitung, ada warga yang tabungannya mencapai jutaan rupiah dari menyetor sampah setiap minggu. Tak semua warga mengambil uangnya. Beberapa membiarkannya di rekening bank sampah untuk kebutuhan darurat.

“Salah satu warga yang sampai jutaan uangnya pak Yamino,” ujar Dalyono sambil menunjuk salah satu pengurus bank sampah sekaligus menjadi juru kunci gudang bank sampah kampungnya.

Seperti bank konvensional, bank sampah rupanya bisa juga menerapkan sistem kredit. Warga yang butuh uang bisa pinjam ke bank sampah terlebih dahulu. Selanjutnya mereka tinggal membayar angsuran dengan sampah anorganik yang dikumpulkan secara berkala.

Upaya itu terbukti efektif mengurangi penumpukan sampah. Saking drastisnya pengurangan, TPU yang ada di lingkungan warga menjadi tak terpakai. Sisa sampah organik pun dititipkan ke TPU lain sementara bekas bak sampah TPU mereka dijadikan sebagai ruangan untuk memproduksi pupuk kompos.