PARKIR DI JOGJA : Tolak Revitalisasi, Jukir Malioboro Tawarkan Opsi Solusi

Spanduk baru berisi kecaman dari jukir Malioboro dibentangkan di tepi jalan, Senin (22/2/2016). (Gilang Jiwana/JIBI - Harian Jogja)
23 Februari 2016 12:57 WIB Jogja Share :

Parkir di Jogja, di Jalan Malioboro sedang dilakukan penataan, namun juru parkir menganggap penataan akan mengganggu kesejahteraan mereka

Harianjogja.com, JOGJA- Juru parkir di Jalan Malioboro Jogja menolak rencana penataan parkir yang dirancang Pemerintah Kota Jogja. Mereka menawarkan solusi yang dianggap lebih adil.

Meskipun tegas menolak, Ketua Paguyuban Parkir Malioboro Sigit Karsana Putra mengatakan pihaknya tidak keras kepala. Bila ada solusi yang adil mereka akan menerima dengan lapang dada. Para Jukir pun mengusulkan beberapa solusi alternatif yang bisa dilakukan pemerintah.

Salah satu yang menurutnya berpotensi terkait rencana Pemda untuk membangun toilet bawah tanah di beberapa titik di Malioboro. Mereka rela bila diminta meninggalkan pekerjaan sebagai jukir bila sebagai gantinya diberikan hak untuk mengelola toilet.

"Ini bisa menuntaskan masalah parkir sekaligus mempertahankan jumlah penghasilan kami," katanya, Senin (22/2/2016).

Mereka juga sudah mendengar kabar terkait rencana pembukaan kantong parkir baru di eks Kampus UPN Ketandan atau bekas Bioskop Indra. Relokasi ke dua kawasan itu dnilainya lebih masuk akal ketimbang ke ABA yang berada jauh dari pusat keramaian Malioboro.

Solusi lainnya, para jukir Malioboro menawarkan opsi untuk dibuatkan kios di tepi dalam trotoar yang menghadap ke arah jalan. Nantinya mereka akan sepenuhnya alih profesi dari jukir menjadi pelapak yang menempati kios-kios yang sudah ditetapkan melalui musyawarah.

Kios itu, lanjut Sigit tak harus besar. Ukurannya cukup sama dengan kios portabel yang selama ini sudah ada di sepanjang Malioboro. Meskipun kecil, jukir bisa mendulang rupiah dengan penghasilan yang tak jauh beda lewat usaha lain itu.

“Jadi ada win-win solution. Kami tetap sejahtera, Pemerintah bisa membuat kawasan pedestrian. Lagipula kios itu kan tidak memakan banyak badan trotoar,” terang dia.

Sampai saat ini, Sigit mengatakan belum ada tanggapan dari dinas terkait mengenai tawaran Paguyuban Parkir Malioboro. Namun dirinya akan terus mengupayakan solusi itu sebagai solusi terbaik bagi semua pihak.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIY Rani Sjamsinarsi mengatakan sembari menyiapkan penggunaan gedung parkir baru, Pemkot Jogja mestinya sudah bisa mulai melakukan sosialiasi kepada masyarakat.

Baik terhadap petugas parkir maupun kepada masyarakat yang memarkirkan kendaraaannya di tepi jalan Malioboro. Apalagi saat ini mereka sudah melimpahkan pengelolaan gedung parkir ABA kepada Pemerintah Kota Jogja.

“Pemkot mestinya tidak usah nunggu kami. Sudah kesepakatan sejak dulu urusan sosial itu dari mereka, kita sudah koordinasi,” ungkap dia.