PARKIR MALIOBORO : Serukan Dialog Pemkot dan Jukir, Mahasiswa Gelar 'Bersih-Bersih Malioboro'

Sejumlah juru parkir yang mengikuti aksi Bersih-Bersih Malioboro, Minggu (28/2/2016). (Uli Febriarni/JIBI - Harian Jogja)
28 Februari 2016 17:23 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Parkir Malioboro masih dilakukan penataan, mahasiswa mendesak Pemkot Jogja berialog dengan juru parkir

Harianjogja.com, JOGJA-Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) baik Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja melakukan dialog dalam melakukan penataan dan relokasi parkir di Malioboro.

Menteri Advokasi Kemasyarakatan BEM KM UGM Nadia Fauzia menjelaskan, pemerintah jangan sampai menerapkan kebijakan yang sudah dirancang, tanpa mempedulikan nasib masyarakat.

Hal tersebut yang kemudian menjadi latar belakang digelarnya aksi 'Bersih-Bersih Malioboro' di pinggiran Jalan Malioboro oleh BEM KM UGM bersama puluhan jukir setempat, pada Minggu (28/2/2016). Dimulai dari trotoar depan hotel Inna Garuda hingga Titik Nol Kilometer.

Meski mendukung adanya penataan dan relokasi parkir, karena dapat mempercantik dan membuat Malioboro lebih tertata, Nadia menyayangkan sikap Pemerintah Daerah, yang sejak enam sampai delapan bulan lalu sekedar menjanjikan dialog kepada para juru parkir (jukir).

Namun sampai saat ini dialog itu tidak pernah ada. Padahal menurutnya, kebijakan yang berdampak langsung kepada rakyat, tentunya juga harus melibatkan mereka sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

Bukan hanya itu, BEM KM UGM juga bermaksud membangun perhatian publik atas kondisi para jukir. Karena hingga saat ini mayoritas masyarakat masih tinggal diam, padahal terjadi konflik sosial yang disebabkan isu relokasi parkir. Pasalnya, adanya kabar bahwa jukir akan mendapatkan uang pengganti Rp40.000 per hari, dirasa tidak manusiawi bagi jukir yang merupakan kepala keluarga, harus menghidupi keseharian keluarga mereka.

"Kami mendesak pemerintah membuka ruang dialog agar penataan dan relokasi parkir berjalan 'sama-sama enak'. Relokasi tetap jalan, tapi kesejahteraan jukir tetap harus dipikirkan," terang mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Angkatan 2013 itu.

Dijumpai di lokasi aksi, salah satu jukir peserta aksi yakni Amin mengungkapkan, sosialisasi penataan parkir dari Pemerintah kepada jukir sangat minim. Bahkan mereka mengikuti perkembangan relokasi parkir berasal dari media massa. Ketika mereka bertemu dengan perwakilan pemerintah dan ditanyai soal kesejahteraan jukir, tidak ada yang berani memberikan jawaban pasti kepada jukir.