PKL UGM Tetap Berjualan Saat Ramadan Meski Dilarang

Yoga Adi Pratama dan Lina Situmorang, dua PKL UGM menunjukan surat pelarangan berjualan dari UGM di kantor LBH Jogja. (Ujang Hasanudin/JIBI - Harian Jogja)
31 Mei 2016 21:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

PKL UGM bersikukuh berjualan.

Harianjogja.com, JOGJA - Pedagang kaki lima di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan akan tetap berjualan di sepanjang Jalan Olahraga-Jalan Notonogoro saat ramadan nanti. Pasalnya, pedagang ngabuburit ini sudah rutin berjualan tiap sore hari saat ramadan sejak 1990-an.

“Kami minta kepada UGM untuk tidak mengusir, melarang, membatasi, dan mengintimidasi pedagang ngabuburit,” kata Ketua Paguyuban Pedagang Ngabuburit Jalan Olahraga-Jalan Notonegoro UGM, Yoga Adi Pratama di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jogja, Selasa (31/5/2016).

Yoga mengatakan kedatangannnya ke LBH Jogja untuk minta bantuan hukum terkait larangan berjualan di sepanjang Jalan Olaghara-Jalan Notonegoro dari UGM. Pihaknya mendapat surat pada 25 Mei lalu dari Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Aset UGM. Surat tersebut berisi larangan berjualan di sepanjang Jalan Olahraga-Jalan Notonegoro dengan alasan ada penataan dari Kementrian Pekerjaan Umum.

Surat larangan berjualan tersebut diakui Yoga juga sudah pernah diterimanya pada 2015 lalu. Namun pihaknya tetap berjualan karena alasan ekonomi. Penjual Batagor dan Sop Buah ini mengaku sudah rutin berjualan setiap ramadan di sepanjang Jalan Olahraga-Jalan Notonegoro, karena kawasan tersebut sudah identik dengan lokasi ngabuburit,
“Sudah jadi momen tahunan,” ujar Yoga.

Senada juga diungkapkan Lina Situmorang, pedagang makanan ringan dan es buah. Ia menempati lapak di Jalan Olahraga sejak 13 tahun lalu. Pihaknya sempat diminta pindah ke lokasi Jalan Lingkar Timur UGM atau arah Polsek Bulaksumur, namun ia menolaknya.

“Saya sudah terbiasa jualan di Jalan Olahraga,” ujarnya.