Putusan MK Dana Pensiun Berlaku, OJK Siapkan Tindak Lanjut
OJK menghormati putusan MK yang memberi pilihan pembayaran manfaat dana pensiun sukarela secara sekaligus atau berkala sesuai kehendak peserta.
Hanindiyo saat menunjukkan tangki Digester yang berfungsi untuk menampung biogas, di Dusun Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul, Senin (20/6/2016). (Yudho Priambodo/JIBI/Harian Jogja)
Energi alternatif berupa biogas dimanfaatkan pedagang makanan.
Harianjogja.com, BANTUL -- Pengembangan biogas yang dihasilkan dari kotoran Sapi di Dusun Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul ternyata mampu mencukupi kebutuhan bahan bakar gas bagi sejumlah warung makan dan warga masyarakat sekitar.
Sejak diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2011, hingga saat ini pengelolaan biogas di yang dikelola oleh kelompok ternak ‘Pandan Mulyo’ tersebut sudah memiliki empat tangki Digester yang berfungsi untuk menampung biogas.
Pengelola Biogas kelompok tani ‘Pandan Mulyo’ Hanindiyo, mengatakan, meskipun susah menghitung berapa hasil biogas yang dapat dihasilkan oleh empat tangki tersebut, selama ini kebutuhan bahan bakar gas bagi warung-warung makan dan kebutuhan bahan bakar gas bagi warga sekitar sudah tercukupi.
“Kurang lebih hasil biogas ini sudah dimanfatkan oleh 90-an warung makan yang ada di pinggir pantai Baru itu, dan hampir 30-an warga. Karena proses fermentasi kotoran sapi yang cepat serta stok kotoran yang cukup maka biogas terus bisa diproduksi,” katanya, Senin (20/6/2016).
Menurut dia untuk penyaluran biogas, pengelola telah memasang pipa-pipa yang menjadi jalur distribusi menuju seluruh rumah dan warung milik warga, dan hanya cukup menggunakan keran untuk membuka dan menutup aliran biogas.
Karena hasil biogas tidak berbahaya seperti gas elpiji, maka pipa yang digunakan pun hanya pipa biasa hanya saja tetap dipilih yang berbahan kuat untuk mengantisipasi kebocoran biogas dalam penyaluran.
“Penyaluran hanya menggunakan pipa biasa ini, seperti pipa air tapi kita pilih kualitas yang lbih bagus untuk mengantisipasi kebocoran,” ujar Hanin.
Ia menjelaskan untuk mengisi empat tangki digester tersebut setidaknya dalam satu hari membutuhkan kurang lebih sebanyak 600 kilogram kotoran sapi. Namun karena banyaknya hewan ternak sapi yang dikelola mencapai 200 hewan maka setidaknya kotoran sapi yang dihasilkan mencapai 1,5 ton dan sudah sangat mencukupi untuk tiga kali proses produksi biogas setiap harinya.
“Untuk memanfaatkan biogas ini, para pedagang dan masyarakat hanya dibebani iuran Rp 10.000 per bulan untuk biaya perawatan, maka dari itu jika dibandingkan menggunakan elpiji penggunaan biogas ini jauh lebih ekonomis,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
OJK menghormati putusan MK yang memberi pilihan pembayaran manfaat dana pensiun sukarela secara sekaligus atau berkala sesuai kehendak peserta.
KPK menghormati pelimpahan kasus Febrie Adriansyah dari Polri ke Kejagung dan memastikan terus memantau perkembangan penyidikannya.
SMA Trensains Muhammadiyah Sragen lolos Program Sekolah Garuda Transformasi bermodal 1.900 prestasi nasional dan internasasional.
Pemkab Sleman masih menerapkan WFH bagi ASN. Namun, baru 7,6% pegawai memanfaatkannya meski kuota kerja dari rumah mencapai 25%.
Haedar Nashir menilai korupsi menjadi salah satu persoalan terbesar Indonesia dan mendesak Presiden memimpin langsung pemberantasan korupsi.
Dua pelajar DIY resmi diberangkatkan mengikuti pelatihan Paskibraka Nasional di Jakarta sebelum bertugas pada HUT Ke-81 RI di Istana Negara.