Advertisement
PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Ribuan Batang Tembakau Terjangkit Virus, Petani Merugi
Advertisement
Pertanian Gunungkidul menghadapi masalah pada komoditas tembakau
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Sebanyak 7.500 hingga 8.000 batang tanaman tembakau milik petani di Desa wareng, Wonosari gagal tumbuh sempurna. Akibatnya, hasil produksi tembakau tak dapat maksimal sesuai dengan yang diharapkan petani.
Advertisement
Salah seorang petani tembakau Dusun Singkar 1,Desa Wareng, Kecamatan Wonosari, Samiyem mengatakan dari 25.000 batang tembakau yang ia tanam, sebanyak 8.000 batang tak dapat tumbuh secara maksimal. Hal tersebut terlihat dari bentukan fisik daun tembakau yang cenderung tak dapat mekar dengan lebar.
Kejanggalan bahwa tembakau akan gagal bertumbuh sudah terlihat sejak masa tanam di usia dua minggu. Samiyem mengatakan terdapat ciri-ciri utama yang menandakan bahwa tembakaunya terserang viirus.
"Di usia sekitar dua minggu tersebut, pucuknya sudah terlihat bengkok lalu daunnya jadi mengeriting," kata dia, Senin (1/8/2016).
Samiyem menambahkan bahwa ia menanam batang tembakau di empat titik lokasi yang berbeda. Terdapat satu lokasi yang gagal di tanah seluas 3.000 meter persegi. Hal tersebut menurutnya sangat merugikan petani. Namun dengan daun tembakau yang gagal tersebut masih dapat dimanfaatkan meskipun hanya sebanyak 30% saja.
Ketika menjumpai permasalahan tersebut, pihaknya pun segera berkonsultasi dengan pendamping pertanian di lapangan. Hasilnya, diketahui bahwa tanaman tembakau terserang virus penyakit yang belum diketahui jenis dan obatnya.
"Kata pendamping petani, Virus itu tidak bisa diobati untuk saat ini, bisanya dicegah. Tapi kan sekarang sudah terlanjur mengeriting semua, otomatis tidak dapat mekar lagi. Anehnya, kenapa bisa menjangkit tanaman secara merata? Apakah virus bawaan dari padi yang ditanam sebelumnya, kami belum paham betul," keluhnya.
Petani lainnya, Jumbadi saat dijumpai Harianjogja.com pun mengeluhkan hal yang serupa. ia mengatakan dengan kondisi tersebut ia mengaku pasrah. Pasalnya memang tak banyak yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan tanaman tembakau miliknya. Ia mengatakan petani tembakau pada tahun ini banyak menagalami kendala.
Selain hama dan penyakit, kemarau basah pun memberikan dampak yang cukup memusingkan para petani. Waktu menanam pun tak dapat ditarik mundur karena dikhawatirkan musim kemarau segera berakhir.
"Kalau menanamnya diundur, sebelum tiba masa panen malah sudah datang musim penghujan. Kan masa tanam tembakau itu tiga bulan, jadi tidak memungkinkan untuk diundur," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Efek Perang Timur Tengah, Malaysia Perketat Keamanan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- Belanja Pegawai Bantul Tembus 34 Persen Rekrutmen Dipangkas
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
Advertisement
Advertisement




