BANDARA KULONPROGO : Urun Rembug untuk Bandara, dari Antisipasi Bau Pesing hingga Ruang Merokok

Presiden Director PT Angkasa Pura 1 (Persero) Sulistyo Wimbo (berdiri) saat membuka Kurasi Budaya dan Sejarah DIY untuk Bandara Internasional Yogyakarta Baru di Pelem Golek Resto, tadi malam, Kamis (6/10/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
07 Oktober 2016 10:18 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Bandara Kulonprogo yang akan dibangun, masih menghimpun masukan dari berbagai kalangan

Harianjogja.com, JOGJA-Pembangunan bandara baru di Kulonprogo tidak hanya membutuhkan olah pikir para arsitektur. Kalangan budayawan, antropolog, dan akademisi pun diajak urun rembug menyampaikan masukannya dalam rangka pembuatan Master Plan bandara baru.

Beragam usulan-usulan disampaikan dalam Kurasi Budaya dan Sejarah DIY untuk Bandara Internasional Yogyakarta Baru di Pelem Golek Resto, Kamis (6/10/2016) malam. Hal sepele seperti bau pesing di toilet pun tak luput jadi sorotan.

“Kita perlu menghilangkan kata pesing [di Bandara Adisutjipto]. Di Hongkong enggak ada itu,” kata Ahli Sejarah, Prof. Suhartono.

Budayawan Butet Kertaradjasa pun yang bertindak sebagai moderator juga turut memberi masukan tentang ruang merokok. Sebagai perokok aktif yang kerap melakukan perjalanan udara melalui Bandara Adisutjipto, ia ingin smoking room yang nyaman. “Ruang smoking itu mbok yo yang manusiawi,” ujarnya.

Antropolog UGM Prof. Irwan Abdullah juga berpendapat, banyak hal-hal kecil yang belum dapat terjawab di Adisutjipto. Salah satu contohnya tentang akses jalan naik ke pesawat bagi kaum lanjut usia yang belum dimiliki Adisutjipto.