BANTUAN WARGA MISKIN : Pedagang hingga Tukang Parkir Senopati Bantu Bangun Rumah Layak Huni di Nglipar

Paguyuban TKP Senopati saat berada di rumah baru milik Bambang Rujito dan Tri Sugiyanti di Dusun Kedungpoh Kulon, Kedungpoh, Nglipar, Jumat (7/10/2016). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
08 Oktober 2016 22:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Bantuan warga miskin diberikan warga sekitar tempat parkir Senopati Jogja

Harianjogja.com, JOGJA– Paguyuban Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati, Kota Jogja melakukan bakti sosial dengan membantu membangun rumah layak huni di Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar.

Biaya pembangunan merupakan iuran dari anggota komunitas yang mencapai 300 orang dari mulai tukang parkir, pedagang dan pengayuh becak di seputaran area bermain Taman Pintar.

Adapun rumah yang dibangun merupakan milik pasangan Bambang Rujito-Tri Sugiyanti. Proses pembangunan dilakukan sejak 15 September lalu dan saat ini rumah layak huni tersebut sudah berdiri. Total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut mencapai Rp50 juta.

“Dana yang digunakan merupakan iuran dari seluruh anggota paguyuban yang ada di sekitar Taman Pintar,” kata Ketua FKP Senopati Harjito kepada Harianjogja.com, Jumat (7/10/2016).

Dia menjelaskan, kegiatan pembangunan rumah layak huni untuk warga kurang mampu merupakan bentuk kepedulian paguyuban terhadap sesama. Selain membangunkan rumah, kata Harjito, pihaknya juga memberikan bantuan permodalan untuk Bambang sebagai modal usaha. “Yang kami berikan bukan uang, tapi barang dagangan hasil patungan dari anggota yang berjumlah sekitar 300 orang,” ungkapnya.

Meski kondisi bangunan rumah miliki Bambang sudah sangat layak, namun Harjito mengaku belum sempurna. Ini lantaran, di rumah tersebut belum ada instalasi listrik sehingga harus butuh tambahan bantuan. “Kalau boleh berharap, masalah listrik ini bisa dibantu oleh pemerintah,” imbuhnya.

Sementara itu, pemilik rumah Tri Sugiyanti mengaku berterima kasih atas bantuan yang diberikan paguyuban TKP Senopati. Pasalnya dengan bantuan ini dia dapat memiliki rumah yang layak huni.

“Sebelum dibangun rumah kami hanya terbuat dari anyaman bambu, tapi sekarang sudah permanen dan dilengkapi dengan warung untuk usaha,” kata Tri, kemarin.

Menurut dia, tanpa bantuan ini maka dirinya tidak bisa memiliki rumah yang layak. Terlebih lagi, suaminya saat ini mengalami cacat karena harus berjalan menggunakan bantuan tongkat. “Saya sebenarnya punya anak dua, tapi kesemuanya sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri,” tuturnya.