Cakruk Pintar Disoal, 3 Orang Ini Dilaporkan

Ilustrasi hukum (JIBI - Dok)
11 Oktober 2016 03:21 WIB Sleman Share :

Cakruk Pintar yang berdiri sejak tahun 2003 tengah mendapat masalah

Harianjogja.com, SLEMAN- Ketua Yayasan Yasuka yang membawahi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Cakruk Pintar melaporkan tiga orang yang diduga terlibat pencemaran nama baik.

Ketiga terlapor tersebut merupakan mantan dan pengurus dukuh di Dusun Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman. Masing-masing terlapor yakni ST, AP, dan SY dilaporkan karena telah menyebar tulisan yang ditanda tangani oleh perangkat Dukuh dan Kepala Desa yang intinya menjelaskan ada empat poin atas dugaan pencemaran nama baik.

Ketua TBM Cakruk Pintar, Muhsin Kalida kepada wartawan mengatakan adanya tindakan aneh dari para perangkat dusun tersebut sebenarnya sudah dirasakan selama beberapa bulan terakhir. Namun dirinya mengaku tidak menanggapi serius hal tersebut karena dinilai bukanlah hal yang penting.

"TBM ini berdiri sejak tahun 2003, kemudian tahun 2007 secara kelembagaan sudah sah dan legal bahkan izin dari Kementerian. Selama ini sejak berdiri saat itu TBM Cakruk Pintar dengan perangkat desa yang lama tidak ada masalah apapun," katanya, Senin (10/10/2016).

Namun setelah berganti kepengurusan perangkat Dukuh keganjalan mulai dirasakan. Secara pasti permasalahan yang timbul antara kedua pihak tersebut masih belum diketahui penyebabnya. Ia mengatakan pihak terlapor tiga orang tersebut melakukan tindakan yang dinilai mencemarkan nama baik dan membuat keberlangsungan kegiatan di taman bacaan menjadi terganggu.

Dalam surat yang mereka buat dan diajukan kepada Kepala Desa menyebutkan empat poin. Di antaranya mengenai kegiatan di cakruk pintar tidak dipergunakan secara maksimal, Pemanfaatan cakruk pintar bukan warga Nologaten, Cakruk Pintar tidak memberikan kontribusi dalam bentuk apapun bagi kemajuan Dusun, dan Pemanfaat Cakrur pintar adalah Yayasan Yasuka yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan pedukuhan Nologaten.

Tuduhan-tuduhan tersebut muncul dan disebarkan ke masyarakat baik secara individu dan saat forum berlangsung. Padahal menurut Muhsin hal tersebut tidak benar, pasalnya selama ini cakruk pintar yang menyediakan perpustakaan manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat. Kegiatan lain seperti menulis cerita, diskusi, seminar, outbond, dan kegiatan lainnya juga seringkali dilakukan di cakruk pintar dan selalu melibatkan warga Nologaten.

"Kami bahkan mengurusi taman bacaan secara mandiri tidak mengandalkan bantuan. Bahkan kami mendengar selentingan juga kalau TBM mendapat bantuan dari pemerintah puluhan juta namun tidak dikelola maksimal. Semua tuduhan itu tidak benar," tegasnya.