Pelayanan RSUD Wonosari Dianggap Buruk,Warga Tempel Poster di Mobil Ambulan

Dua orang melakukan aksi pemasangan poster bernada sindiran di mobil ambulan milik RSUD Wonosari, Kamis (20/10/2016). (David Kurniawan/JIBI - Harian Jogja)
20 Oktober 2016 20:55 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Pelayanan RSUD Wonosari dianggap buruk sehingga warga melakukan protes

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Buntut buruknya pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, dua orang warga menggelar aksi protes, Kamis (20/10/2016).

Protes dilakukan dengan cara memasang sejumlah poster bernada sindiran di mobil ambulan milik rumah sakit.

Pantauan yang dilakukan Harianjogja.com, protes sempat diwarnai dengan aksi saling tarik. Hal itu terjadi karena petugas berusaha menghalang-halangi proses penempelan poster di mobil ambulan.

Namun setelah berdiskusi dengan petugas yang bersangkutan maka upaya penempelan poster sindiran berhasil dilakukan.

Beberapa poster ini dipasang di dua unit ambulan milik RSUD. Aksi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengingatkan manajemen RSUD untuk memerbaiki kualitas pelayanan yang dinilai masih jauh dari kata memuaskan.

“Jelas saya kecewa, khususnya pelayanan untuk pasien miskin yang dilakukan sekadarnya,” kata Endro Guntoro, pelaku aksi protes kepada wartawan.

Dia menjelaskan, kebobrokan pelayanan RSUD bisa dilihat dari kasus kematian pasien pemegang Jaminan Kesehatan Daerah DIY atas nama Edi Subroto, warga asal Kecamatan Ponjong. Ia meninggal saat akan dirujuk ke salah satu RS di Kota Jogja, padahal pasien ini sudah dirawat selama sembilan hari di RSUD.

“Untuk penyakit tidak ada yang tahu, karena dokter yang periksa juga tidak bisa menyebutkan pasti hingga pasien meninggal dunia pada 18 Oktober lalu,” ungkapnya.

Masalah yang dialami Edi, kata Endro, tidak hanya menyangkut masalah diagnosa penyakit, namun juga berkaitan dengan penggunaan mobil ambulan untuk rujukan.

Diakuinya, penggunaan mobil itu prosesnya ribet dan pasien harus mengeluarkan sejumlah uang. Untuk biaya tersebut, sambung dia, tidak ada standarisasi karena ada pasien yang ditarik Rp300.000, tapi ada juga yang hanya Rp275.000.

“Ini jadi masalah sendiri. Uang itu untuk apa?” keluh dia.

Akibat ketidakjelasan untuk pembayaran ambulan, Endro mengakui sempat berdebat dengan petugas rumah sakit mulai dari yang ada di bangsal hingga kasir.

“Ujung-ujungnya saya harus meninggalkan STNK motor sebagai jaminan. Sayangnya upaya itu sia-sia karena pasien bersangkutan meninggal sesaat sebelum dirujuk ke RS di Jogja,”paparnya.

Lebih jauh dikatakan Endro, aksi protes yang dilakukannya ini bukan mengatasnamakan keluarga pasien, namun hal tersebut disuarakan sebagai bentuk protes atas buruknya pelayanan yang diberikan.

“Katanya abis lulus akreditasi dengan perolehan nilai tertinggi, tapi kok pelayanannya tetap sama. Saya juga tegaskan pula, aksi ini bukan yang pertama karena beberapa tahun lalu ada warga yang kecewa dengan jalan menyegel mobil ambulan milik RSUD,” imbuhnya.