PILKADA JOGJA : Seberapa Efektifkan Kampanye Terbuka?

Seorang pekerja menyablon kaus pesanan calon anggota legislatif (caleg) di industri rumahan sablon di kawasan Cemani, Sukoharjo, Kamis (30/1/2014). Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, kebutuhan atribut kampanye calon anggota legislatif dan partai meningkat. (Ardiansyah Indra Kumala/JIBI - Solopos)
21 Oktober 2016 10:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Pilkada Jogja mengenai wacana penghapusan kampanye terbuka mendapat dukungan.

Harianjogja.com, JOGJA -- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIY mendukung agar kampanye terbuka dihapuskan dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2017 mendatang, karena besarnya potensi konflik.

Ketua Bawaslu DIY, Muhammad Najib menilai kampanye terbuka tidak memberikan efek signifikan bagi pasangan calon. Selain itu kampanye terbuka juga rawan ditumpangi meski petinggi partai dan tim pemenangan pasangan calon berupaya untuk kampanye tertib dan aman.

"Saya menduga orang yang datang dalam kampanye tebuka justru yang suka hura-hura dan belum tentu memilih," kata Najib, Kamis (20/10/2016)

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/10/21/pilkada-jogja-bawaslu-diy-dukung-penghapusan-kampanye-terbuka-762363">PILKADA JOGJA : Bawaslu DIY Dukung Penghapusan Kampanye Terbuka)

Ia menyarankan kepada masing-masing pasangan calon supaya mengoptimalkan kampanye terbatas dengan tatap muka. Pihaknya juga meminta KPU untuk mengatur jadwal kampanye terbatas. Sebab kampanye terbatas pun diakui Najib dalam aturannya bisa menghadirkan sampai seribu orang, sehingga jika kampanye terbatas berbarengan simpatisan berpotensi bertemu, khususnya di wilayah Kota Jogja.

Usulan kampanye terbuka sebelumnya disampaikan oleh sejumlh lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Anti Kekerasan Yogyakarta atau Makaryo. Mereka mencatat banyak peristiwa kekerasan yang terjadi saat proses kampanye terbuka.

Penghapusan kampanye terbuka ini juga mendapat respon dari petinggi partai dan tim pemenangan pasangan calon. "PKS tidak keberatan, malah bagus diperbanyak bertemu dengan masyarakat di RT/RW," kta Wakil Ketua Tim Pemenangan Haryadi Suyuti-Heroe Poerwadi yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Jogja.

Ketua Tim Pemenangan Imam Priyono-Achmad Fadli, Danang Rudiatmoko pun tidak keberatan jika kebijakan penghapusan kampanye terbuka dihapuskan, "Selama itu bersifat baik dengan tujuan pendidikan politik kita dukung," kata Danang.

Namun, sejauh ini Danang belum mengetahui bagaimana batasan kampanye terbuka yang diusulkan untuk dihapus tersebut. Karena, baginya, kampanye terbatas pun memungkinkan untuk saling bertemu antarsimpatisan.

Menurut dia, persoalan gesekan antarsimpatisan saat kampanye menjadi tanggungjawab masing-masing pemimpin partai dn semua pihak terkait untuk meredam massa pendukung, saling menjaga diri untuk tidak memprovokasi. Ia mengklaim Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) selama ini melakukan upaya antisipasi gesekan sejak pileg dan pilpres lalu.

Kendati rapat terbuka dibutuhkan pasangan calon, pihaknya siap mengikuti apa pun yang menjadi keputusan penyelenggara pemilu, "Kita kan sebagai peserta kan harus patuh pada aturan main," ucap Danang, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDIP Kota Jogja.

Sekedar diketahui pasangan calon Haryadi Suyuti-Heroe Poerwadi didukung oleh PKS, Golkar, Demokrat, Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN). Sementara pasangan Imam Priyono-Achmad Fadli didukung PDIP, Nasdem, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKS).?