UMKM JOGJA : Pengusaha Kecil Bingung Dapat Pesanan dalam Jumlah Besar, Ini Solusinya

Berbagai produk karya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Kulonprogo dijual saat Pasar Rakyat Jelang Lebaran 2016 di kawasan Alun-alun Wates sisi utara, Selasa (28/6/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
24 Oktober 2016 19:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

UMKM Jogja perlu bersatu untuk menciptakan jaringan

Harianjogja.com, JOGJA-Persaingan antar pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih terjadi. Agar tidak menimbulkan ketimpangan bisnis yang tinggi, pelaku usaha sejenis perlu menciptakan jaringan untuk saling berbagi order.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM DIY Trisaktiyana mengatakan, pesanan barang yang datang ke kalangan UMKM memang fluktuatif.

Terkadang mereka bisa menerima order pesanan tetapi kadang sama sekali tidak ada konsumen yang memesan barang hasil produksinya.

Permasalahnya, kata Triasaktiyana, ketika pesanan tiba-tiba datang dalam jumlah besar, kemampuan pengusaha dalam memproduksi barang dalam jumlah besar dan cepat masih terbatas.

"Pengusaha terbatas dalam kemampuan merekrut tenaga yang dapat bekerja cepat terutama ketika pesanan tiba-tiba meningkat. Tenaganya pergi kemana gitu. Kalau punya karyawan tetap, sulitnya kalau kondisi [pasar] turun," jelasnya pada Harianjogja.com, Minggu (23/10/2016).

Salah satu solusi menghadapi permasalahan ini menurutnya adalah antar pengusaha sejenis harus mau berbagi barang pesanan yang dikerjakan.

"Misalnya dapat pesanan 100 biji, UMKM A bisa [mengerjakan] 25 sementara sisanya bisa dikerjakan dengan teman-temannya [UMKM sejenis yang lain]," ucapnya. Jika berbagi antar usaha sejenis ini dilakukan, akan membantu  mengangkat roda bisnis pengusaha lain yang lesu.

Selama ini menurutnya masih ada pengusaha yang mengerjakan sendiri semua pesanannya tanpa berbagi dengan pengusaja sejenis lainnya. Trisaktiyana melihat, hal ini tidak semata pengusaha tidak ingin berbagi rejeki, tetapi lebih pada menjaga konsistensi kualitas produk. Takutnya, katanya, jika dikerjakan UMKM lain, hasil yang dikerjakannya tidak sesuai pesanan customer. Hal ini justru akan merugikan pengusaha itu sendiri jika sampai kehilangan konsumen.

"Secara umum, kendala UMKM masih seputar masalah pasar. Kalau soal [kendala] pembiayaan, asal UMKM sehat, bank ki duite akeh banget [bank punya uang banyak sekali]," jelasnya.