PETERNAKAN GUNUNGKIDUL : Setahun, Serangan Hewan Buas Bunuh Ratusan Ternak

30 Oktober 2016 11:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Peternakan Gunungkidul kini tengah mendapat teror dari hewan buas

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Teror hewan liar terhadap ternak warga di Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari masih terus berlanjut. Dalam satu bulan terkahir setidaknya ada tiga serangan yang membuat lima kambing mati dan 14 ekor lainnya mengalami luka-luka.

Kepala Desa Giripurwo Supriyadi mengatakan, di wilayahnya sudah sering terjadi serangan hewan buas terhadap ternak milik warga. Dia pun berkata, jika diakumulasikan dalam setahun terakhir sudah ada ratusan hewan mati gara-gara hewan tersebut.

Dia pun menjelaskan, kematian terhadap ternak-ternak itu memiliki ciri-ciri yang sama, yakni hewan yang mati kehabisan darah dengan luka mayoritas di bagian leher.

"Kita harus waspada. Jangan sampai serangan jadi mengganas karena yang dirugikan warga," katanya, Sabtu (29/10/2016)

Sementara itu, Camat Purwosari Sukis Heriyanto sudah mendengar teror hewan buas terhadap ternak milik warga. Dia pun meminta agar warga menggiatkan kegiatan sistem ronda malam. Selain itu, upaya antisipasi dilakukan dengan jalan memindahkan ternak-ternak yang dimiliki ke dekat pemukiman.

"Di sini [Purwosari] masih banyak yang memelihara ternak di hutan dan jauh dari pemukiman. Kondisi inilah juga menjadi pemicu banyaknya ternak mati karena penyerangan baru diketahui keesokan pagi," katanya.

Dia mengatakan, teror terhadap ternak warga dilakukan oleh gerombolan anjing hutan yang bentuknya mirip dengan serigala. Umumnya, hewan ini hidup di gua-gua dan tinggal secara berkelompok. "Mungkin hewan ini menyerang ternak karena persediaan makanan di tempat tinggalnya sudah habis sehingga mencari mangsa keluar. Dalam perburuan itu, hewan ini tidak sendiri karena dilakukan secara bergerombolan," ungkapnya. (David Kurniawan)

Teror Terhadap Ternak Warga di Purwosari

Hari                                          Korban    
Sabtu (15/10/2016)              Delapan kambing (2 mati, 6 luka)
Senin (24/10/2016)              Empat kambing (1 mati, 3 luka)
Kamis (27/10/2016)             Tujuh kambing (2 mati, 5 luka)

Sumber: wawancara