UMKM KULONPROGO : Budidaya Lidah Buaya Masih Punya Peluang Besar, Tertarik?

08 Desember 2016 06:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

UMKM Kulonprogo mengembangkan budidaya lidah buaya.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Budidaya lidah buaya di Kulonprogo dianggap masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Selain bisa diolah menjadi berbagai produk makanan, permintaan lidah buaya juga muncul dari sejumlah pabrik besar.

Siwidati, Ketua Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB) Tunggak Semi mengatakan kelompoknya memasok pelepah lidah buaya sebanyak 5 kuintal setiap 2 minggu.

“Banyak pesanan pelepah untuk pabrik-pabrik kosmetik dan shampoo,”ujarnya ditemui di rumah produksinya di Kedundang, Temon pada Selasa (6/12/2016). Tingginya kebutuhan inilah yang saat ini menjadi kendala utama.

Padahal, kelompok wanita tersebut juga membutuhkan sekitar 300 kilogram lidah buaya setiap bulannya untuk dijadikan olahan makanan. KAKB  Tunggak Semi sendiri memproduksi beragam produk olahan lidah buaya seperti teh, sirup, selai, kripik, dan cendol. Selain itu, kelompok ini juga menerima pesanan bibit tanaman lidah buaya.

Selama ini, kelompk ini mengandalkan tanaman lidah buaya yang dibudidayakan di pekarangan rumah untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, jumlahnya semakin tidak mencukupi seiring dengan peminat produk olahan dan permintaan dari pabrik. Guna menutup kebutuhan tersebut, Siwidati menerangkan jika kelompoknya kemudian mengadakan kerjasama dengan sejumlah masyarakat di daerah lain.

Salah satu daerah yang diajak kerjasama yakni Gunung Kidul karena masih banyak lahan kosong yang bisa dibudidayakan. Sejumlah daerah di Sleman dan Bantul juga ikut diajak kerjasama guna pemenuhan kebutuhan ini. Adapun, pembudidayaan lidah buaya sendiri tidk terlalu sulit dilakukan. Siwidati mengatakan tanaman tersebut akan hidup dan berkembang lebih baik jika ditanama di dalam pot. Selain itu, sinat matahari juga memberikan dampak yang positif untuk ukuran pelepahnya.

Masyarakat di dusun tersebut juga sudah diajak untuk ikut membudidayakan lidah buaya dengan pot-pot tanaman. Khusus untuk produk olahannya, Siwidati mengatakan lidah buaya jenis Pontianak jauh lebih baik dibandingkan tanaman lokal. Hal ini dikarenakan kandungan airnya yang lebih sedikit dan ukuran pelepahnya.

Sementara itu, Kepala Bagian TI dan Humas Setda Kulonprogo, Ariadi mengatakan sudah dilakukan upaya untuk membantu promosi produk olahan lidah buaya tersebut. Terlebih lagi, produk olahan lidah budaya terbukti mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. Selain itu, bisa menjadi alternatif mencari penghasilan tambahan bagi sejumlah ibu-ibu. Apabila memang memungkinkan dan pasarnya terus berkembang juga tidak menutup kemungkinan jika masyarakat Kulonprogo diajak untuk menanam lidah buaya.