KISAH INSPIRATIF : Sembari Mengasuh Anak, para Ibu Ini Bisa Menghasilkan Rp20juta per Bulan

Kegiatan di KAKB Tunggal Semi memproduksi berbagai makanan olahan lidah buaya di rumah produksinya di Dusun Kedundang 3, Kedundang, Temon, Rabu (7/12/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
11 Desember 2016 14:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Kisah inspiratif datang dari sejumlah ibu di Kulonprogo

Harianjogja.com, KULONPROGO- Para ibu di Dusun Kedundang 3, Kedundang, Temon ini mengolah tanaman lidah buaya menjadi berbagai jenis panganan. Semua bagian dari tanaman hias ini diolah dengan teramat efektif hingga menghasilkan rupiah.

Jalan di kampung yang berdekatan dengan Stasiun Kedundang ini terasa begitu rindang dan menyejukkan. Sebagian besar rumah di kampung ini punya tanaman lidah buaya yang diletakkan di polybag. Sebagian lagi bahkan ikut menanam lidah buaya di pekarangannya. Tanaman yang juga dikenal dengan nama Aloe Vera ini seakan punya tempat khusus di hampir semua rumah warga.

Di salah satu sudut kampung, kemudian nampak sebuah rumah berwarna hijau dengan tanaman lidah buaya yang sangat banyak. Halaman rumah itu penuh dengan anak-anak batita hingga usia 5 tahun yang berkeliaran.

Tak jauh dari mereka, para ibu duduk manis sembari mengupas kulit aloe vera. Salah satu anak kemudian menangis akibat bertengkar dengan karibnya, sang ibu yang rupanya tak jauh kemudian meletakkan pisaunya dan bergegas menggendong anaknya.

“Maaf ya mbak, di sini memang selalu ramai seperti ini, semuanya bawa anak,” ujarnya dengan wajah malu-malu. Para ibu ini tergabung dalam Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB), gagasan pemerintah daerah yang ditujukan meningkatkan kesejahteraan bersama.

Olahan lidah buaya ini merupakan usaha bersama yang kemudian kini sudah bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Siwidati, Ketua KAKB Tunggak Semi mengatakan paling tidak saat ini sekitar Rp20juta per bulan dihasilkan dari usahanya.

Kelompok ini menghasilkan madu, dodol, sirup, selai, keripik, teh, dan puding. Lebih jauh, mereka juga mampu mengolah aloe vera menjadi cendol dan es krim. Siwi menerangkan jika hampir semua bagian lidah buaya digunakan menjadi produk olahan mereka.

“Semuanya digunakan, tidak ada yang terbuang,” urainya sembari menyiapkan es buah lidah buaya kreasinya, Rabu (7/12/2016) lalu. Dalam es buah itu, ditambahkan pula potongan lidah buaya segar untuk melengkapi kenikmatannya.

Ia menjelaskan jika hampir semua produk berasal dari daging pelepah lidah buaya yang sudah dikupas. Dagung tersebut dicuci dan kemudian direbus hingga matang baru kemudian dijadikan dodol, puding, dan keripik.

Sementara air rebusannya disarikan hingga menjadi saripati bersama dengan madu. Sebagian air rebusan kemudian diolah dengan bahan lainnya hingga menjadi sirup. Karena itu, dalam sekali proses biasanya bisa langsung dihasilkan berbagai jenis produk.

Tak dilupakan pula ialah kulit pelepah lidah buaya yang sebelumnya telah dikupas. Daripada sekedar dibuang, kulitnya kemudian dijemur hingga kering dan diiris tipis-tipis dan dijadikan teh lidah buaya.

Kepala Bagian TI&Humas Pemkab Kulonprogo, Ariadi mengatakan senang jika kelompok yang awalnya dibentuk pemerintah bisa membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. Jika memang potensi dan pasarnya masih terbuka lebar maka bisa dilakukan pengembangan lebih lanjut.

Paling tidak, bisa diberdayakan warga desa lainnya untuk melakukan pembudidayaan tanaman lidah buaya. Apalagi, kelompok ini bisa menghasilkan beragama makanan kreasi seperti cendol dan es krim lidah buaya yang masih relatif jarang.