KEKERASAN SLEMAN : Pengembalian Anak untuk Kasus Klitih Belum Tentu Tepat, Lalu?

Ilustrasi protes kekerasan terhadap anak (Dok/JIBI/Solopos - Antara)
14 Desember 2016 11:20 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Kekerasan Sleman yang dilakukan anak terjadi karena orang tua kurang memberikan perhatian

Harianjogja.com, SLEMAN -- Fenomena klitih atau kekerasan di jalanan perlu ditemukan akar masalahnya. Tindak kriminal yang melibatkan anak-anak usia sekolah tersebut salah satunya disebabkan perhatian orang tua dinilai kurang maksimal.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/12/14/kekerasan-sleman-klitih-akibat-anak-tak-puas-sikap-orang-tua-776288">KEKERASAN SLEMAN : Klitih akibat Anak Tak Puas Sikap Orang Tua)

Menurut Psikolog UPT Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sleman, Nurtika Ulfah , orangtua mulai saat ini harus mengubah pola komunikasi dengan anak. Meski begitu, katanya, penanggulangan kasus klitih bukan semata-mata dibebankan kepada orangtua namun menjadi tanggungjawab bersama. Termasuk orangtua, sekolah, petugas keamanan, maupun masyaraat.

"Kebijakan difersi atau pengembalian anak pelaku klitih kepada keluarga belum tentu menjadi solusi yang tepat," ujarnya, Selasa (13/12/2016)

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/12/14/kekerasan-sleman-klitih-akibat-anak-tak-puas-sikap-orang-tua-776288">KEKERASAN SLEMAN : Klitih akibat Anak Tak Puas Sikap Orang Tua)

Alasannya, difersi yang dilakukan tanpa pertimbangan yang matang bisa menimbulkan masalah baru atau masalah yang diinginkan tidak akan selesai. Baginya, proses difersi hanya bisa dilakukan jika pondasi keluarga anak tersebut kuat. Kalau keluarganya belum kuat ini justru jadi masalah.

"Difersi hanya bisa dilakukan satu kali. Tidak berlaku bagi kejahatan yang hukumannya lebih dari tujuh tahun dan mengancam nyawa orang lain," jelasnya.

Sekadar diketahui, fenomena klitih yang melibatkan anak-anak akhir-akhir ini sering terjadi. Kasus klitih di Sleman misalnya terjadi di Jalan Kapten Haryadi, Lojajar, Sariharjo, Ngaglik (4/11/2016). Namun demikian, para pelaku sudah ditangkap beberapa hari lalu (2/12/2016).

Kanit Reskrim Polsek Ngaglik, Iptu Made Suhendra menjelaskan, satu di antara pelaku merupakan residivis terkait tindak kejahatan yang sama. Sedangkan dua lainnya merupakan pasangan kekasih.

"Saat melakukan aksi klitih, si perempuan membantu pacarnya. Dia membawakan senjata tajam,” kata Made.