Jemaah Haji Gunungkidul Tiba di Makkah, Siap Jalani Puncak Ibadah
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Narkoba Gunungkidul Meningkat Pesat
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Peredaran Narkotika dan Obat-obatan Terlarang (Narkoba) meningkat pesat. Hal itu terlihat dari jumlah perbandingan kasus yang berhasil diungkap oleh jajaran Satuan Reserse Narkoba (Reskoba) Polres Gunungkidul.
Tahun lalu, polisi hanya mengungkap tiga kasus yang berkaitan dengan narkoba. Namun tangkapan di tahun ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Sebab hingga akhir Desember polisi sudah mengungkap 14 kasus.
Kepala Satreskoba Polres Gungkidul Iptu Kadek Dwi mengatakan, kasus peredaran narkoba yang ditangani terus berfluktuatif dari tahun ke tahun. Namun dalam dua tahun terakhir terjadi tren peningkatan, di mana dibuktikan dengan pengungkapan kasus yang ditangani petugas.
“Tahun ini sudah ada 14 kasus, sedang di 2015 lalu hanya ada tiga kasus saja,” kata Kadek kepada Harianjogja.com, Senin (26/12/2016).
Adapun rincian pengungkapan kasus tersebut antara lain, empat kasus narkotika, enam kasus psikotropika dan empat kasus lainnya berkaitan peredaran obat-obatan keras yang tak memiliki izin resmi. Dari pengungkapan ini, polisi berhasil mengamankan ribuan butir pil sebagai barang bukti.
“Kita juga berhasil mengamankan 14 tersangka,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, pengungkapan kasus yang dilakukan didominasi oleh kasus peredaran obat-obatan dengan harga murah yang nilainya di kisaran ribuan hingga puluhan ribu rupiah. “Kondisi ini patut kita waspadai karena perderannya bisa menyasar ke semua kalangan sehingga peredarannya harus benar-benar dilakukan pencegahan,” ungkap dia.
Kapolres Gunungkidul AKBP Nugrah Trihadi menambahkan, untuk upaya pemberantasan dibutuhkan komitmen dari semua pihak untuk memerangi peredaran barang haram tersebut. Upaya pemberantasan tidak hanya dilakukan dengan jalan pengungkapan kasus, namun juga dilaksanakan menggalakan upaya pencegahan. Salah satunya dilakukan dengan sosialisasi akan bahaya narkoba ke sekolah-sekolah.
“Sosialisasi ini sangat penting karena sebagai salah satu tindakan preventif. Harapannya dengan kegiatan tersebut maka para siswa jadi tahu akan bahaya dari narkoba sehingga tidak mendekati barang haram itu,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi menilai pentingnya mengantisipasi adanya dampak buruk terhadap perkembangan di sektor kepariwisataan. Sebab dari perkembangan tersebut tidak menuntup kemungkinan adanya pengaruh dari luar khususnya berkaitan dengan peredaran barang haram seperti narkoba atau pun minuman-minuman keras.
Dari pengaruh buruk ini, Immawan sangat mewaspadai peredaran miras. Ia tidak menampik konsumsi miras masuk dalam kategori tindak pidana ringan yang dibuktikan dengan sanksi hokum yang diberikan. Namun demikian, sambung Immawan, konsumsi miras ini memberikan celah untuk melakukan tindak pidana yang lain.
“Kesannya memang terlihat sepele, tapi jika dibiarkan peredarannya, peminum bisa melakukan hal negative lain. Misalnya mencoba narkoba, judi atau melakukan tindak kejahatan yang lain. Jadi untuk antisipasi secara global perlu dilakukan penekanan terhadap pemberantasan peredaran miras,” kata Immawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Jadwal lengkap Piala Dunia 2026 dikonversi ke waktu WIB. Simak jam tayang fase grup hingga final format baru 48 tim di AS, Meksiko, & Kanada di sini.
Pixar resmi bantah rumor Taylor Swift isi soundtrack Toy Story 5. Sutradara Andrew Stanton konfirmasi versi final lagu penutup bukan karya Swift.
AC Milan dikabarkan mengincar Matthias Jaissle sebagai pelatih baru usai perombakan besar klub. Nama Ralf Rangnick juga dikaitkan dengan proyek Rossoneri.
Hasil practice MotoGP Italia 2026 di Sirkuit Mugello. Fabio Di Giannantonio raih waktu tercepat di sesi penuh drama yang diwarnai dua kali red flag.
Kementerian ESDM jamin harga Pertalite dan Biosolar tidak naik hingga akhir tahun 2026 meski kurs rupiah melemah menembus Rp17.877 per dolar AS.