TRADISI KULONPROGO : Penjor Jadi Wujud Syukur 70 Tahun Usia Desa Banjararum

Puluhan bregada mengikuti kirab budaya di Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, Senin (17/4/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
18 April 2017 13:55 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Tradisi Kulonprogo digelar berupa Hari Jadi Desa Banjararum

 

Harianjogja.com, KULONPROGO- Desa Banjararum di Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo, genap berusia 70 tahun pada Senin (17/4/2017). Ribuan warga berkumpul di Lapangan Dekso, Banjararum untuk merayakan hari jadi desanya bersama-sama.

Sebanyak 36 bregada melakukan kirab budaya dari rumah kepala desa menuju Lapangan Dekso. Siang itu, mereka menggunakan pakaian adat Jawa dan membawa berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah, hingga aneka umbi-umbian.

Beberapa diantaranya tampak memainkan alat musik drum band minimalis dan seruling untuk mengiringi perjalanan sejauh satu kilometer yang mesti ditempuh. Ada pula yang berusaha tetap berjalan dengan tegap agar terlihat layaknya prajurit sungguhan sembari mengangkat tombak kebanggaan.

Sampai di lapangan, para bregada yang merepresentasikan semua unsur masyarakat Banjararum tersebut langsung disambut puluhan penjor yang sudah disiapkan sejak pagi. Jumlah penjor disebut mencapai 26 buah, sesuai dengan banyaknya dusun di Banjararum.

Namun, bukan cuma penjor yang menarik perhatian mereka. Puluhan nasi tumpang ternyata juga telah siap di atas panggung untuk segera dipotong dan disantap ramai-ramai.

Ketua Lembaga Permusyawaratan Masyarakat Desa (LPMD) Banjararum, Sukardal mengatakan penjor melambangkan ungkapan syukur atas nikmat dari Tuhan.

Penjor yang terbuat dari bambu dengan hiasan janur itu juga biasa digunakan masyarakat setempat untuk menandai adanya suasana kebahagiaan pada momen tertentu. Hari itu, penjor pun dipakai untuk menunjukkan jika masyarakat Banjararum tengah bersuka cita merayakan hari jadi desa yang ke-70.

Soal pakaian adat Jawa yang dipakai peserta kirab, Sukardal menyebutnya sebagai upaya melestarikan kebudayaan daerah.

“Masing-masing dusun juga bawa satu tumpeng. Sangu tumpeng ini lambang persatuan. Harapannya masyarakat Banjararum bisa terus bersatu,” ujar Sukardal yang juga bertugas sebagai ketua panitia acara.

Beberapa saat kemudian, upacara peringatan hari ulang tahun Desa Banjararum dimulai. Bukan hanya ratusan personel bregada dan tamu undangan yang mengikuti rangkaian acaranya. Ratusan masyarakat juga terlihat ingin menjadi bagian dari peserta upacara meski hanya bisa berdiri di sekitar lapangan.

Usai upacara, seremoni pemotongan tumpeng pun dilakukan. Tumpeng tersebut kemudian dikembalikan kepada setiap bregada yang mewakili dusun masing-masing untuk dimakan secara kembulan atau bersama-sama. Mereka berbagi nasi, sayur, lauk, hingga ayam ingkung yang jadi primadona. Hal itu diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Banjararum pertama kali dibentuk pada 17 April 1947. Kala itu, Sultan HB IX menggabungkan lima kelurahan menjadi satu, yaitu Dekso, Ngipik Rejo, Kedondong, Semagen, dan Degan. Saat ini, Banjararum menjadi satu dari empat desa di Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo.

Sementara itu, Kepala Desa Banjararum, Warudi berharap wilayah yang dia pimpin dapat semakin maju dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Pemerintah desa akan selalu berusaha memfasilitasi dan mendorong masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal, terutama kalangan anak muda.

Menurut Warudi, anak muda perlu diarahkan untuk lebih bangga dan mencintai desanya. Mereka diharapkan termotivasi untuk berkarya dan sukses tanpa harus merantau ke kota.

“Kita harus siap-siap dengan keberadaan bandara juga. Kalau semuanya ke kota, nanti desa bakal makin tertinggal sehingga harus kita bentuk dari sekarang,” kata Warudi.