Siswa SD Unggulan Aisyiyah Tulis Surat untuk Kartini

Suasana perayaan Hari Kartini 2017 di SD Unggulan Aisyiya Bantul. (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
23 April 2017 01:22 WIB Arief Junianto Bantul Share :

SD Unggulan Aisyiyah menggelar kegiatan menulis surat untuk mengasah kemampuan siswa.

Harianjogja.com, BANTUL -- Puluhan siswa kelas V dan VI SD Unggulan Aisyiyah Bantul menulis surat untuk RA Kartini. Surat itu lantas dimasukkan ke dalam amplop untuk dipamerkan di sepanjang lorong kelas dan dibaca oleh siswa lainnya.

Selain agar para siswa bisa mengenal lebih jauh sosok RA Kartini, kegiatan itu juga diharapkan bisa mengasah keterampilan menulis mereka. Pasalnya, surat-surat itu tak hanya ditulis begitu saja, melainkan juga dinilai oleh beberapa juri yang berasal dari kalangan pendidik sekolah tersebut.

“Penilaiannya di antaranya adalah tata bahasa, isi surat, dan tata tulisnya,” kata Susanti, salah satu guru SD Unggulan Aisyiyah Bantul saat ditemui di sela peringatan Hari Kartini di sekolah itu, Sabtu (22/4/2017).

Susanti menambahkan, Lomba Menulis Surat untuk RA Kartini itu sendiri merupakan salah satu dari tujuh lomba yang digelar dalam rangka peringatan Hari Kartini di SD Unggulan Aisyiyah. Secara kesuluruhan, ketujuh lomba itu digelar sejak 17-22 April 2016.

Selain Lomba Menulis Surat, dalam rangkaian peringatan Hari Kartini 2017 itu, lomba lain yang digelarnya adalah Lomba Pemilihan Dhenok Thole, Lomba Kebersihan Kelas, Lomba Penyajian Makanan Tradisional, Lomba Mewarnai Bertema Nasionalisme, Lomba Montase, dan Lomba Seni Kaligrafi.

Adapun peserta lombanya, Susanti menambahkan, berasal dari siswa kelas I-V. Sedangkan siswa kelas VI memang sengaja tak diikutkannya lantaran mereka kini tengah fokus dalam mempersiapkan diri menghadapi Ujian Sekolah. “Siswa kelas VI ada 92 anak. Biar mereka fokus pada ujian saja,” kata Susanti yang juga Ketua Panitia Peringatan Hari Kartini tersebut.

Terpisah, Kepala SD Unggulan Aisyiyah Bantul Suwardi menjelaskan, kegiatan peringatan Hari Kartini itu, sejatinya sudah ia gelar sejak sekolah itu berdiri. Sedangkan untuk peraturan penggunaan pakaian adat saat peringatan Hari Kartini, tidak dilakukannya setiap tahun lantaran tak ingin membebani wali siswa untuk mencari pakaian adat bagi anak-anaknya. “Itulah sebabnya, pakaian adat kami haruskan di acara peringatan Hari Karitini ini, setiap dua tahun sekali,” katanya.