KISAH INSPIRATIF : Diaspora Jawa Menjadi Kartini di Tanah Singapura

Suwindrie Sutiyono, 19, mengaku menjadi salah satu peserta Diaspora asal Singapura. (Mayang Nova Lestari/JIBI - Harian Jogja)
24 April 2017 08:22 WIB Jogja Share :

Kisah inspiratif mengenai perjalanan diaspora Jawa

Harianjogja.com, JOGJA -- Seorang gadis berambut panjang sebahu melintas di pelataran Beteng Vredeburg dengan mimik nampak kebingungan. Suwindrie Sutiyono, 19, mengaku menjadi salah satu peserta Diaspora asal Singapura.

“Saya disini muda sendiri, tidak ada yang seusia dengan saya. Saya baru pertama kali ikut acara ini bersama bapak dan ibu saya,” kata Suwindrie usai menyambut salam Harianjogja.com di sela event Diaspora Jawa 2017.

Ia mulai bercerita bagaimana ia sangat bangga menjadi seorang keturunan Jawa selama ini. Sutiyono merupakan nama ayahnya yang memiliki garis keturunan Singapura-Pacitan. Menurutnya, banyak hal yang ia kagumi dari kahidupan orang Jawa, salah satunya yakni Budaya Jawa.

Kebudayaan Jawa dinilainya lebih bisa mengenalkannya pada kehidupan yang lebih tradisional. Cara berbicara, bertingkah laku, kesenian serta budaya lah yang begitu menarik perhatiannya. Dalam kehidupannya di negara yang modern seperti singapura, ia mengaku sangat bersyukur menjadi seorang keturunan Jawa.

“Saya memang suka dengan budaya. Dalam kehidupan yang semakin modern ini, saya bisa belajar dari Jawa untuk bisa menjadi perempuan yang lebih baik. Meski saya harus belajar banyak tentang Jawa,” kata Suwindrie yang baru akan menginjak studi di salah satu universitas di Singapura itu..

Tak banyak pengetahuan yang dimiliki Suwindrie tentang Jawa, terlebih tentang kehidupan masyarakat Jawa di masa dahulu. Nama Ibu Kartini, Pelopor emansipasi perempuan di tanah Jawa bahkan menjadi satu nama yang kali pertama di dengarnya selama ini. Menariknya, meski tidak mengetahui tentang sosok Ibu Kartini, ia mengaku akan banyak belajar dan mengenal tentang Ibu kartini, juga tentang hal-hal yang terkait dengan Jawa seperti makanan dan pakaian tradisionalnya.

“Pecel, saya sangat suka pedasnya makanan itu,” kata Suwindrie dengan gaya menahan liurnya.

Selain itu, sikap orang Jawa yang ramah, senang bermasyarakat, tidak sombong sangat dihormatinya. Ia sedikit kecewa karena dalam event tersebut ia tak menemui peserta yang sebaya dengannya. Ia berharap, dalam event diaspora Jawa selanjutnya dapat menghikut sertakan generasi muda lebih banyak lagi agar minat akan Budaya Jawa tidak hilang.

Hadijah Binti Adnan, perempuan empat anak asal Singapura pun menceritakan kisah hidupnya sebagai perempuan keturunan Jawa yang berjuang menjadi sosok Ibu Kartini di tanah Singapura.

Kecintaannya pada tanah Jawa bahkan memberikan inspirasi memberikan nama kepada empat anaknya dengan nama bernuansa Jawa agar tidak hilang Jawanya, begitu aku Hadijah. Keempat anaknya diberi nama Riyanto, Kartini, Siti Maryam, dan Karmila.

Untuk menjadi Kartini diwujudkannya sebagai seorang perempuan yang berjuang melalui Pendidikan. Ia ingin mengikuti jejak ibu Kartini yakni dengan belajar menjadi scientist dengan dukungan suaminya yang akarb disapa ‘Pak Bari’ dengan memanfaatkan beasiswa Pendidikan dari sebuah universitas di Singapura.

Semangatnya tersebut menjadi salah satu usahanya untuk menjadi seorang perempuan Jawa yang cerdas seperti sosok Ibu Kartini. Selain itu, ia pun menanamkan sejumlah kebiasaan orang Jawa melalui pakaian yang digunakannya.

“Setiap Hari Raya Idul Fitri, satu keluarga kami menjahit baju kebaya dan pakaian laki-laki khas Jawa,” kata dia.

Selain itu, Hadijah mennamkan dalam dirinya serta keluarganya untuk terus belajar tentang kebudayaan Jawa yang unik. Dari nenek dan Kakeknya yang bertanah asal di Kendal ia mempelajari banyak hal. Mulai dari berbahasa jawa, memasak sambal goreng, Soto, Perkedel, Nasi Ambeng, bahkan tempe ia dan suaminya belajar untuk membuat sendiri.

Hadijah berharap, rasa cintanya pada tanah Jawa bakal terus tumbuh dan berkembang. Sempat muncul hasrat untuk kembali dan membangun kediaman di tanah Jawa, namun baginya biarlah tanah Jawa menjadi satu hal yang akan selalu ia ingat dan ia rindu dalam benak bersama keluarga kecilnya.Diaspora Jawa, Ngumpulke Balung Pisah

Diaspora Jawa menjadi satu kelompok masyarakat yang mempersatukan orang Jawa di seluruh dunia dalam satu kesempatan yang sama setiap tahunnya. Bukan tanpa alasan bagi Indrata Kusuma Prijadi, pendiri Diaspora Jawa untuk membentuk komunitas tersebut. Sekitar tahun 2000 lalu menjadi awal baginya untuk memulai keberadaan Diaspora hingga saat ini.

Awalnya, Indra yang pernah bekerja di sebuah restaurant di Amerika secara tidak sengaja bertemu dengan seorang laki-laki kulit hitam Suriname di tempat bekerjanya. Tanpa pernah mengenal sebelumnya, Indra membalas sapa dengan logat Jawa orang yang kali pertama ditemuinya tersebut.

“Sedikit senang namun bingung juga terharu, karena pada dasarnya memang banyak orang Indonesia tapi tidak ada yang dapat berbahasa Jawa, baru pertama saya disapa dengan seorang Jawa kala itu,” kata dia saat dijumpai di sela acara Diaspora Jawa, Kamis (20/4) lalu di Benteng Vendeburg, Malioboro.

Indra melanjutkan, setelah pertemuan tidak sengaja tersebut menjadi awal yang menggugah hatinya. Betapa ia merasa sangat bahagia dapat bertemu dengan seseorang yang bukan berasal dari Jawa namun dapat berbahasa Jawa. Hingga pada awal 2007 Indra pun berinisiatif membuat facebook dengan nama grup ‘Javanese (Wong Jowo) In The Universe. Mulailah banyak anggota yang berkumpul melalui Facebook dari berbagai negara diantaranya Indonesia, Suriname, Belanda, Singapura, Malaysia, Jerman, Hongkong, Cina, Australia, New Caledonia, Polandia, Meksiko, Kanada, hingga Amerika Serikat. Berawal dari saat itulah para angota mulai turut menyebarkan.

Pada tahun 2013 pun mulai terbentuk komunikasi di antara para anggota untuk mengadakan pertemuan. Berdasarkan kesepakatan bersama, pertemuan pertama dilakukan di Jogja dengan tema ‘Tilik Sedulur nang Jogja’. Antusias para keturunan Jawa pun mulai terlihat ramai hingga di tahun berikutnya, tepatnya yakni Februari 2014 perkumpulan tersebut Indra mengubah nama menjadi ‘Javanese Diaspora- Ngumpulke Balung Pisah-‘. Sejak saat itulah Diaspora (Penyebaran Orang) Jawa mulai terbentuk dan dilaksanakan secara rutin setiap 1.5 tahun sekali.

Indra berharap dengan terlaksananya Diaspora secara rutin dapat terus menjadi wadah bertemunya orang-orang aseli Jawa maupun Keturunan untuk selalu saling menyambung Silaturahim. Selama Diaspora digelar pun berbagai kegiatan dilakukan diantaranya Sarasehan, berbagi pengalaman, pertunjukan seni serta kebudayaan dari negara masing-masing

“Mudah-mudahan Next kami akan mengajak generasi muda untuk bergabung dalam pergelaran ini. Kami butuh generasi baru yang akan melanjutkan Diaspora di masa mendatang,” kata Indra.