Banyak Hari Libur, Penyedia Jasa Wisata Jangan Aji Mumpung Bikin Harga Melambung

Wisatawan memadati Goa Pindul, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul saat libur Tahun Baru Imlek, Sabtu (28/1/2017). (JIBI - Irwan A. Syambudi).
04 Mei 2017 17:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Libur Nasional seperti Hari Buruh Senin (1/5/2017) kemarin berpotensi menjadi libur panjang

Harianjogja.com, JOGJA-Libur Nasional seperti Hari Buruh Senin (1/5/2017) kemarin berpotensi menjadi libur panjang. Liburan seperti ini menjadi sumber pendapatan bagi pengusaha yang erat kaitannya dengan pariwisata.

Mulai dari pusat oleh-oleh sampai jasa perjalanan wisata ikut menerima imbas baik dari adanya long weekend ini. Setidaknya pendapatan mereka naik dari akhir pekan biasanya.

Pusat Oleh-Oleh Tiwul Yu Tum Gunungkidul  mengalami kenaikan omzet sampai 25% dibandingkan akhir pekan biasa. “Kalau yang [Toko Yu Tum] pusat selama long weekend kemarin omzetnya sekitar Rp35 juta,” kata Slamet Riyadi selaku Pemilik Pusat Oleh-Oleh Tiwul Yu Tum Wonosari pada Harianjogja.com, Rabu (3/5/2017).

Kebanyakan wisatawan datang menggunakan mobil pribadi. Sementara untuk di Cabang Yu Tum 2, didominasi para pelajar dari luar kota.

Ia mengatakan, pada Mei ini akan ada dua libur nasional lagi yaitu tanggal 11 dan 25. Keduanya jatuh pada Kamis dan akan berpotensi menjadi libur panjang.

Slamet berharap, wisatawan banyak yang berkunjung ke Gunungkidul. Akan tetapi ia juga meminta para pelaku wisata untuk meningkatkan pelayanannya dan jangan membuat wisatawan kapok karena meningkatkan harga tidak semestinya.

Sementara itu, kenaikan omzet juga dialami pengelola obyek wisata Kalibiru, Kulonprogo. Dari jumlah tiket yang terjual sebanyak 3.000, sudah menunjukkan ada kenaikan pendapatan yang diterima. “Kalau Sabtu Minggu biasa cuma 1.500 tapi kemarin sampai 3.000,” tuturnya.

Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata (Asita) DPD DIY Udhi Sudiyono mengaku, long weekend pada Sabtu (29/4/2017) sampai Senin (1/5/2017) kemarin membuat jumlah pengguna jasa perjalanan wisata naik sebanyak 20% dibandingkan akhir pekan biasa. Mayoritas wisatawan berasal dari Jakarta.

Menurutnya, long weekend memberikan pengaruh terhadap pendapatan Asita. Ia sendiri tidak dapat menyampaikan berapa besar pendapatan yang diterima anggota Asita selama libur panjang kemarin karena beberapa anggota enggan menyampaikan pendapatannya.

Kenaikan pendapatan di sektor pariwisata ini menjadi kabar baik bagi masyarakat dan pemerintah DIY. Namun di sisi lain, adanya pelaku wisata yang memasang tarif tinggi untuk memanfaatkan long weekend ini mengundang citra buruk DIY sebagai kota pelajar dan wisata.

Dosen Ekonomi Universitas Sanata Dharma Ike Janita Dewi yang juga peneliti pariwisata mengatakan, fenomena aji mumpung seperti itu sangat merugikan citra pariwisata DIY. Apalagi di era media sosial sekarang, berita buruk akan cepat menjadi viral.

Menurutnya, permasalahan ini dapat ditangani dengan sinergi bersama komunitas. Pertama, untuk mengampanyekan sadar wisata dan kedua, memberikan sanksi bagi para pelanggar. Menurutnya, kerjasama dengan komunitas sangat diperlukan untuk memberikan pengendalian dan sanksi oleh komunitasnya sendiri.