Menumbuhkan "Tepa Selira" Lewat Dolanan Tradisional

Sejumlah anak memperagakan permainan egrang yang dimodifikasi dengan kreativitas dalam perlombaan dolanan anak di Kecamatan Ngemplak, Selasa (17/5/2016). (Abdul Hamid Razak/JIBI - Harian Jogja)
08 Mei 2017 10:19 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Dolanan tradisional yang sarat akan nilai-nilai filosofis mulai dilupakan oleh masyarakat

 
Harianjogja.com, JOGJA -Dolanan tradisional yang sarat akan nilai-nilai filosofis mulai dilupakan oleh masyarakat. Dewasa ini, anak-anak lebih banyak memilih bermain angry bird, COC, Get Rich dibandingkan bermain dakon, engklek, dan egrang.

Hal itu disampaikan oleh pemerhati budaya, Lakstarum Suhandono dalam acara Demo dan Kajian Dolanan Tradisional Jawa, Minggu (7/5/2017). Menurut Suhandono, penyebab utama hilangnya dolanan tradisional adalah karena kehadiran berbagai gadget yang menawarkan berbagai fitur yang menarik.

“Karena itulah kami mencoba mengenalkan kembali kepada masyarakat terutama para orang tua dan anak-anak beberapa dolanan tradisional, bagaimana memainkannya dan apa manfaatnya,” kata Suhandono pada acara yang digelar di Pusat Pengkajian Tumbuh Kembang Anak, Jalan Langenarjan Lor 23.

Pagi itu Suhandono memulai pemaparannya dengan menjelaskan apa itu dolanan dakon. Menurut Suhandono, dakon adalah permainan yang dimainkan dengan dua orang menggunakan alat yang terbuat dari kayu atau plastik yang pada kedua ujungnya terdapat lubang yang disebut induk. Di antara lubang tersebut terdapat beberapa lubang yang lebih kecil.

Permainan ini, tambahnya, dimainkan dengan mengambil biji-bijian yang ada dilubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu persatu ke lubang yang dilalui lubang induk milik kita. Permainan ini akan berakhir jika biji-bijian yang terdapat dilubang kecil yang kecil telah habis dikumpulkan.

Menurutnya, dolanan dakon punya beberapa manfaat seperti mengajarkan anak konsep menang kalah, melatih kemampuan anak dalam mengatur strategi, dan mengajari anak watak baik seperti sabar, bersyukur, rajin, berpikir nalar dan berusaha keras.

“Permainan ini menggambarkan seorang manusia harus selalu hari-hati dan teliti dalam menggunakan dan memanfaatkan kemampuannya. Apabila manusia bisa menggunakan dan memanfaatkan apa yang dimiliki dengan baik, maka manusia tersebut akan mendapatkan keuntungan.”

Kemudian Suhandono menjelaskan tentang dolanan cublak-cublak suweng. Ia mengatakan, meskipun cublak-cublak suweng merupakan lagu dolanan untuk anak-anak, tapi sebenarnya lagu tersebut penuh dengan makna yang mendalam.

“Pesan moral yang terkandung dalam dolanan ini adalah untuk mencari harta janganlah menuruti hawa nafsu tetapi kembalikanlah semuanya ke hati nurani yang bersih. Dengan hati nurani yang bersih, akan lebih mudah menemukannya, tidak tersesat jalan hingga lupa akan akhirat,” jelas Suhandono.

Selain memaparkan kedua dolanan tersebut, dalam acara Acara yang diselenggarakan oleh Bina Kasih Nusantara, Deaf Art Community, Lembaga Peduli Anak Bangsa dan warga Langenarjan itu, Suhandono juga menjelaskan tentang dolanan jamuran, egrang, gangsingan, othok-othok, dan kluntungan.

Ketua Panitia Demo dan Kajian Dolanan Tradisional Jawa, Dida berharap permainan tradisional yang banyak sekali manfaatnya dan penuh dengan nilai-nilai filosofis itu bisa dijadikan dasar dalam pendidikan anak usia dini.