Simposium Internasional Muslim Tionghoa Digelar di Jogja

Deretan lampion menghiasi penggal Jalan Malioboro tepatnya di depan Malioboro Mall, Yogyakarta, Jumat (07/02/2014). Pemasangan lampu lampion khas itu merupakan bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek dan perayaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2014 yang akan akan berlangsung di kampung Ketandan pada 10-14 Februari 2014. (JIBI/Harian Jogja - Desi Suryanto)
09 Mei 2017 03:22 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Simposium internasional kembali digelar di Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA -- Majalah Suara Muhammadiyah akan menyelenggarakan simposium internasional Genre Sosial Budaya Muslim Tionghoa Di Indonesia pada tanggal 10 Mei 2017 di hotel Inna Garuda, Jogja.

Simposium ini digagas dalam rangka meredam gejolak dan sentimen terhadap etnis Tionghoa yang akhir-akhir ini nyaris memecah persatuan bangsa.

Ketua Koordinator Simposium Internasional, Ahmad Muarif mengatakan sentiment anti Tionghoa kembali menghangat ketika Pilkada DKI Jakarta mulai berjalan. Ahmad mengatakan ada beberapa penyebab kenapa tindakan rasis ini bisa muncul kembali.

“Penyebabnya antara lain adalah sikap Basuki Tjahaya Purnama yang dianggap tidak menghargai pribumi dan melecehkan agama, isu imigran Tionghoa, dan perekonomian Indonesia yang selama ini dianggap dikuasai etnis Tionghoa,” katanya saat jumpa pers di Kantor PP Muhammadiyah, Senin (8/5/2017).

Hal ini, katanya, kemudian mempengaruhi jalinan sosial yang pernah ada di dalam masyarakat, antara etnis Tionghoa dan pribumi. Ahmad menyebut ada kekurangnyamanan yang sekarang dialami warga etnis Tionghoa, termasuk jalinan muslim Tionghoa dan muslim pribumi.
Padahal muslim Tionghoa, kata Ahmad mengutip hasil riset Suara Muhammadiyah, punya peran strategis dalam pengembangan dakwah islamiyah dan gerakan Muhammadiyah di beberapa daerah di Indonesia.

“Temuan-temuan penting ini tentu harus diapresiasi sebagai pengetahuan baru yang akan membuka mata dan hati umat Islam bahwa muslim Tionghoa punya bagian dalam sejarah Islam di Indonesia,” kata Redaktur Pelaksana Suara Muhhamadiyah ini.

Ia mengatakan simposium internasional Genre Sosial Budaya Muslim Tionghoa Di Indonesia akan menghadirkan pembicara berkelas internasional seperti Menteri PAN dan RB, Asman Abnur, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, WALUBI Bidang Hubungan Internasional Philip K Widjaja, Ekonom dan Cendekiawan Islam Syafii Antonio, Pakar Ilmu Sosial dan Peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute Hew Wai Weng dan Sejarawan UGM Yuanda  Zara.

Ketua Bidang Pendidikan Majelis Ulama Indonesia DIY, Sugito yang juga hadir dalam jumpa pers tersebut mengatakan etnis Tionghoa sejak zaman Hindia Belanda punya peran penting dalam bidang ekonomi.

“Etnis Tionghoa juga punya peran sosial budaya yang baik. Ada organisasi PITI [Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, dan beberapa individu menjadi pengurus MUI. Memang hubungan Islam dengan etnis Tionghoa tidak selamanya baik. Kadang ada riak-riak kecil,” katanya.

Sugito menyatakan MUI DIY mendukung penuh simposium internasional Genre Sosial Budaya Muslim Tionghoa Di Indonesia karena menurutnya masih ada pemahaman yang tidak tepat mengenai muslim Tionghoa.

“Saya harap symposium ini mampu menempatkan permasalahan sesuai dengan apa adanya, tanpa ada rasa cemburu dan curiga sesama bangsa Indonesia,” tutupnya.