Telaga Tileng Bakal Dinormalisasi

11 Mei 2017 00:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak berencana melakukan revitalisasi Telaga Tileng

 
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak berencana melakukan revitalisasi Telaga Tileng di Desa Petir, Kecamatan Rongkop. Diharapkanya adanya kegiatan ini maka fungsi telaga dapat kembali normal.

Kepala Desa Petir, Sarju mengatakan pihaknya sudah mendapatkan sosialisasi dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak terkait dengan program revitalisasi Telaga Tileng pada Kamis (4/5/2017) lalu.

Dalam sosialisasi ini dipaparkan tentang rencana mengembalikan fungsi dari telaga yang saat ini mengalami pedangkalan. “Kami menyambut baik program normalisasi itu,” kata Sarju kepada Harianjogja.com, Minggu (7/5/2017).

Menurut dia, upaya normalisasi sangat dibutuhkan karena telaga itu dapat berfungsi sebagai penampung air. Tujuan dari tampungan ini agar warga masih mendapatkan stok saat musim kemarau tiba. “Kalau sekarang hampir tidak berfungsi dan banyak ditumbuhi ilalang,” ujarnya.

Sarju mengungkapkan, program revitalisasi telaga ini tidak hanya dilakukan di Telaga Tileng. Sebab sesuai dengan program dari balai, ada empat telaga lainnya di Gunungkidul yang akan dihidupkan kembali.

“Saya kurang tahu, empat lokasi lainnya di mana. Yang jelas, untuk revitalisasi telaga di Gunungkidul ada anggaran Rp6 miliar,” katanya lagi.

Terpisah, Camat Rongkop Jaka Wardaya menyambut baik adanya program revitalisasi Telaga Tileng. Ia pun mengaku sudah mengetahui program tersebut sehingga pihak kecamatan juga diundang dalam acara sosialisasi program.

“Memang waktu sosialisasi tidak bisa hadir, namun secara keseluruhan telah mendapatkan informasi rencana pembangunan ulang telaga di Petir,” kata Jaka.

Menurut dia, normalisasi Telaga Tileng merupakan satu-satunya telaga yang dinormalisasi di Kecamatan Rongkop. Ia pun berharap program dapat direalisasikan sehingga telaga dapat berfungsi normal kembali.

Namun demikian, Jaka menekankan agar program harus direncanakan dengan matang. Khususnya berkaitan dengan kondisi karakteristik di sekitar telaga.  Ia tidak ingin kejadian yang pernah di wilayah Kecamatan Girsubo terulang pada program revitalisasi di Telaga Tileng.

“Waktu jadi Camat Girisubo, juga pernah ada program revitalisasi enam telaga. Namun dikarenkaan program tidak berjalan dengan baik maka hasilnya tidak maksimal. Jadi saya tidak ingin, hal itu terjadi di Petir,” katanya lagi.