PENDIDIKAN JURNALISTIK : Budaya Baca dan Tulis Rendah, Rawan Terjebak Hoax

Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Anton W Prihartono saat memberikan pelatihan jurnalistik di SMAN 1 Sleman (Facebook - Anton Wahyu Prihartono)
15 Mei 2017 01:55 WIB I Ketut Sawitra Mustika Sleman Share :

Pendidikan jurnalistik berikut diberikan kepada pelajar SMA

Harianjogja.com, SLEMAN -- SMAN 1 Sleman bekerja sama dengan Lembaga Manajemen, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat [LMP2M] STIM YKPN mengadakan pelatihan jurnalistik bagi para siswa-siswi.

Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Sleman, Suhardana mengatakan, pelatihan jurnalistik dilaksanakan karena budaya membaca dan menulis di Indonesia sangat rendah. Padahal, katanya, kemajuan suatu bangsa sangat tergantung kepada kemampuan masyarakat dalam membaca dan menulis.

“Membaca dan menulis belum menjadi budaya di masyarakat kita. Belum lagi gempuran teknologi yang membuat orang dengan mudahnya mendapat informasi, sehingga akhirnya yang berkembang adalah budaya copypaste,” jelasnya di sela-sela acara, Sabtu (13/5/2017).

Karena budaya baca dan tulis yang rendah, Suhardana mengatakan, akhirnya masyarakat mudah terjebak pada berita palsu atau hoak yang akhir-akhir ini penyebarannya sangat massif. Ia mengatakan sebagian orang sangat gemar membagikan tautan tulisan di media sosial tanpa mengecek kebenaran isi tulisan tersebut.

“Orang hanya baca judul habis itu di share. Ini terjadi karena orang-orang tidak suka membaca. Jadi isinya tidak dibaca, dilihat judulnya bagus, langsung di share,” tambah guru yang merupakan pembina ekstra kulikuler jurnalistik SMAN 1 Sleman ini.

Lebih lanjut ia menerangkan akibat lain dari rendahnya budaya baca dan tulis, yaitu kepercayaan diri masyarakat yang rendah serta kreatifitas yang tumpul. Suhardana mengatakan masyarakat yang jarang membaca tidak akan menjadi masyarakat yang berpengetahuan sehingga akhirnya kreativitas pun menjadi minim.

Karena itulah, menurutnya, sangat penting membangun sumber daya manusia sejak dini, salah satunya dengan melakukan pelatihan-pelatihan.
Selain mengadakan pelatihan, Suhardana mengaku pihaknya selama ini melakukan beberapa langkah untuk membudayakan baca tulis di lingkungan sekolah.

“Sesuai ujaran pemerintah, sebelum kegiatan belajar mengajar, guru dan siswa harus membaca buku non pelajaran selama 15 menit. Perpustakaan kami juga mengadakan lomba untuk membuat resensi dan selalu berupaya menambah koleksi buku non pelajaran,” jelasnya pada acara yang dihelat di SMAN 1 Sleman tersebut.

Ia menambahkan, penting juga dilakukan penyadaran kepada masyarakat mengenai manfaat menulis bagi diri sendiri maupun orang lain, “Selama ini soalnya sudah terlanjur ada cap yang mengatakan menulis itu hal yang susah. Jadi jangan langsung diajak menulis. Tapi diberitahukan manfaatnya apa.”

Selain pelatihan jurnalistik, pagi itu juga digelar pelatihan mengenai manajemen dan fotografi. Direktur LMP2M STIM YKPN, Sri Rejeki mengatakan pelatihan manajemen dibutuhkan karena dalam menulis juga diburuhkan perencanaan, pengorganisasian, serta eksekusi tulisan.
“Sedikit-sedikit juga diberikan mengenai etika. Karena selama ini saya lihat banyak pemberitaan yang terlalu vulgar, seperti berita pembunuhan, misalnya,” ungkapnya.

Sama seperti dengan Suhardana, Sri juga mengatakan pelatihan jurnalistik sangat penting dilakukan, mengingat kemampuan berpikir siswa yang masih lemah. “Untuk melatih mereka supaya bisa berpikir secara sistematis, dan struktural.”

Ia menambahkan, keadaan di Indonesia dengan di luar negeri sungguh berbeda. Ia mengambil contoh Australia. Di sana, katanya, anak kecil diwajibkan membaca satu buku dalam sehari, sehingga dalam lima hari harus membaca sebanyak lima buku.

“Bayangkan satu tahun berapa buku yang dibaca. Rendahnya budaya baca dan tulis membuat masyarakat kita tidak punya rasa kritis dalam memandang sesuatu. Masyarakat begitu mudah percaya.”

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Harian Jogja, Anton W Prihartono yang menjadi pemateri dalam pelatihan  tersebut mengatakan kegiatan menulis sangat penting dilakukan karena umur tulisan jauh lebih lama dibanding ucapan.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi jika ia tidak menulis, ia akan hilang ditelan zaman. Menulis adalah adalah bekerja untuk keabadian,” ungkapnya mengutip kata-kata sastrawan Pramoedya Ananta Toer.