Antisipasi Laka karena Bus Pariwisata, Kantong Parkir Diwacanakan di Luar Kota Jogja

20 Mei 2017 18:22 WIB Sunartono Jogja Share :

Parkir di Jogja diusulkan juga dibangun di Luar kota Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA -- Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja tengah mewacanakan penempatan kantong parkir bus pariwisata di luar Kota Jogja. Selain untuk mengantisipasi kemacetan sekaligus menghindari lakalantas karena bus pariwisata berukuran besar yang seringkali memenuhi badan jalan.

Kabid Lalu Lintas dan Angkutan Dinas Perhubungan Kota Jogja Made Golkari menyatakan, saat ini pihaknya tengah berproses mendata secara valid jumlah bus yang masuk ke Kota Jogja sebagai bahan untuk perencanaan penempatan parkir bus di luar kota.

"Pendataan kami terkait dengan wacana adanya pul bus di luar kota Jogja, kan harus menyediakan lahan yang mencukupi karena itulah jumlah valid bus yang masuk saat ini baru kami data," ungkapnya kemarin (19/5/2017).

Namun ia memberikan perkiraan, pada saat weekend jumlah bus pariwisata yang masuk bisa mencapai ratusan. Sedangkan pada saat liburan tertentu bisa mencapai ribuan karena mereka hilir mudik dalam sehari.

"Itu perkiraan, kalau validnya kami baru akan data," ujarnya.

Terpisah Kabid Angkutan Darat Dishub DIY Agus Harry Triono menambahkan, tidak ada pendataan rasio antara bus pariwisata yang masuk ke kota dengan ruas jalan. Karena perbandingan itu dilakukan tanpa melihat jenis kendaraan. Selama ini bus pariwisata yang masuk ke Kota Jogja memang sering diidentikkan dengan kemacetan dan kesemrawutan. Tetapi perlu dihitung pula, setiap satu bus pariwisata dapat mengangkut minimal 50 penumpang. Jika 50 penumpang itu naik kendaraan biasa atau non bus pariwisata maka akan lebih banyak menghabiskan badan jalan.

"Jadi sebenarnya bus wisata ini lebih efektif juga, kalau pakai kendaraan berapa itu, rasionya malah lebih besar, lebih menghabiskan jalan," ungkapnya.

Namun, ke depan perlu ada dukungan terhadap wacana penempatan parkir bus pariwisata di luar Kota Jogja. Cara itu bisa dilakukan dengan sistem drop in, bus pariwisata hanya masuk untuk ngedrop penumpangnya di dalam kota kemudian menuju tempat parkir di luar kota. Selanjutnya penumpang diangkut menggunakan shuttle bus ketika akan kembali menuju bus pariwisata, atau dengan cara sebaliknya. "Dulu ada tempat parkir milik swasta di sisi terluar dekat Pasar Niten, tetapi sudah tidak jalan lagi," ungkapnya.

Terkait bagi pesepeda yang sering tidak mendapatkan ruang, kata Harry, pemerintah sebenarnya telah menyediakan jalur di pinggiran. Termasuk di kawasan Jalan Tentara Pelajar tempat korban pesepeda tersebut. Namun, ia menyayangkan banyak jalur pinggiran untuk pesepeda yang justru dimanfaatkan untuk tempat parkir. "Kalau konsisten ada lajur khusus untuk sepeda, maka tidak boleh dijadikan tempat parkir, ini memang harus dipikirkan bersama, terutama agar tidak terjadi konflik dengan juru parkir," kata dia.