Sayuran, Buah dan Umbi Jarang Dikonsumsi Warga DIY

Sejumlah pengunjung mencicipi beram makanan yang di jual dan dipamerkan dalam Peringatan ke-36 Hari Pangan Sedunia "Gerakan Nasional Konsumsi Pangan Sehat" di halaman Balaikota Yogyakarta, Rabu (26/10/2016). Bahan pangan lokal seperti ketela, garut, dan umbi-umbian lain digunakan sebagai bahan dasar makanan yang dijajakan dalam puluhan stand hingga 27 Oktober 2016. (JIBI/Harian Jogja - Desi Suryanto)
08 September 2017 15:20 WIB Arief Junianto Jogja Share :

Pola Pangan Harapan (PPH) di DIY dinilai masih belum ideal

Harianjogja.com, JOGJA --Pola Pangan Harapan (PPH) di DIY dinilai masih belum ideal. Keragaman bahan pangan, seperti sayur buah, dan umbi masih sangat kurang pada semester kedua 2017 ini.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Arofa Noor Indriani seusai membuka Pameran Pengolahan Makanan dalam rangka Peringatan Hari Pangan Sedunia, Kamis (7/9/2017) di Halaman Kantor BKPP DIY.

Dikatakannya, dari angka ideal 100, nilai PPH di DIY baru mencapai 88.5. Itu menunjukkan masih rendahnya kesadaran dalam meningkatkan keragaman pangan.

PPH sendiri merupakan beragam pangan atau kelompok pangan yang didasarkan pada sumbangan energi terhadap total energi kelompok pangan utama dari suatu pola ketersediaan dan konsumsi pangan yang mampu mencukupi kualitas kuantitas maupun keragamannya.

Dari sembilan kelompok pangan yang menjadi indikator PPH, Arofa menambahkan, sayur-sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian adalah yang sangat jarang dikonsumsi masyarakat.

“Kami terus berupaya lakukan sosialisasi untuk mendorong masyarakat meningkatkan konsumsi keragaman pangan, terutama pada umbi-umbian yang di kawasan selatan DIY dulu sempat menjadi makanan pokok,” paparnya.

Terkait hal itu, akademisi Agrobisnis Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta Ari Astuti mengungkapkan belum idealnya PPH di masyarakat DI Yogyakarta sebenarnya merupakan persoalan klise.

Ia mencontohkan, Gunungkidul yang dulu dikenal sebagai pengonsumsi umbi-umbian terutama singkong, kini nyaris tak hilang. Jenis pangan itu sepertinya kian tidak dilirik oleh generasi muda.

“Hal yang sama juga terjadi di buah-buahan, dimana buah impor menjadi pilihan dibandingkan buah lokal yang lebih jelas manfaatnya,” jelasnya saat ditemui di salah satu stan pameran.

Rendahnya minta penggunaan umbi-umbian ini diakui Ari juga terjadi pada skala industri. Saat ini petani yang fokus pengelolaan umbi kesulitan mendapatkan harga jual yang lebih dibandingkan dengan gandum.