Advertisement
Kerajinan Kuningan Bantul Tak Lagi Berkilau
Advertisement
Berbagai kerajinan dapat ditemui di daerah Bantul, salah satunya kerajinan kuningan milik Endang Suatmadji
Harianjogja.com, BANTUL-Berbagai kerajinan dapat ditemui di daerah Bantul, salah satunya kerajinan kuningan milik Endang Suatmadji.
Advertisement
Sejak tahun 1982 dirinya memulai usaha itu yang dirintis oleh ibunya. Kini sepeninggal suaminya, Endang berusaha melanjutkan usahanya itu yang juga dibantu oleh anaknya dan 10 orang pegawainya.
Produk kuningan milik Endang duluh pernah berjaya hingga dapat melakukan ekspor di berbagai negara Eropa dan beberapa negara Asia.
“Dulu bekerjasama dengan PT.Sumiyati sebagai distributor, namun sekarang untuk ekspor ke luar negeri sudah tidak dilakukan lagi. Bisa dibilang permintaan saat ini menurun.
Endang mengungkapkan kondisi saat ini sangat berbeda dengan dulu dimana dirinya hingga kelelahan untuk melayani permintaan dari para peminat produk-produk kuningan.
“Sudah tidak bisa dibilang lagi kalau dulu permintaannya sangat berbeda dengan sekarang, dulu di PT.Sumiyati itu ada empat orang yang mengurusi kesini, salah satunya orang Indonesia yang membantu ekspor sampai luar,” ungkapnya.
Endang mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan penjualannya menurun. “Permintaan sekarang menurun karena persaingan banyak, daya beli masyarakat turun, harga bahan baku naik tapi harga jual barang jadinya tetap rendah," ungkap Endang.
Namun dirinya juga masih bersyukur sampai saat ini masih bertahan dan mempunyai pelanggan tetap.
Produk kuningan milik Endang pun pernah mendapatkan rekor MURI di tahun 2014, produk tersebut berupa klontong dengan ukuran tinggi dan lebar kurang lebih satu meter.
Hingga kini pun dirinya tetap membuat berbagai produk kuningan, seperti klontong, lonceng, keris, dan berbagai pernak-pernik berbahan dasar kuningan lainnya, dengan kisaran harga ribuan hingga puluhan juta rupiah.
Hendro putra Endang yang juga telah mulai belajar membuat kuningan sejak SMP mengungkapkan dalam pembuatan produk-produk kuningan tersebut ada dua cara yaitu dengan cara cor dan cara pahat, dirasa pula oleh dirinya membuat dengan cor lebih mudah.
“Kalau dengan pahat resiko kecil, tapi sekali gagal gak kepakai, beda kalau dengan cor jika salah bisa diulang lagi,” ungkap Hendro.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- SIM Keliling Jogja Dibuka di Alun-Alun Kidul, Cek Jadwalnya
Advertisement
Advertisement





