Banyak Warung Sate Klathak Jadi Penyebab Tipisnya Populasi Kambing di Bantul

25 Januari 2018 19:55 WIB Salsabila Annisa Azmi Bantul Share :

Bupati Bantul Suharsono mengaku prihatin terhadap populasi kambing di Bantul

 

Harianjogja.com, BANTUL - Bupati Bantul Suharsono mengaku prihatin terhadap populasi kambing di Bantul. Rencana anggaran untuk memperbanyak lokasi peternakan komunal dan inseminasi buatan untuk kambing mulai dicanangkan.

Suharsono mengatakan dirinya sudah memberi mandat kepada Diperpautkan Bantul untuk survey ke beberapa titik lokasi. "Di Dlingo dan Srandakan sebenarnya potensial, tapi untuk teknis ke Diperpautkan Bantul saja," kata Suharsono seusai launching program Upsus Siwab 2018 di Kretek, Rabu (24/1/2018).

Adanya penambahan lokasi peternakan kambing sudah mulai dianggarkan dalam APBD I. Harapannya dengan adanya tambahan peternakan kambing komunal dapat mempermudah pemantauan dan koordinasi terkait populasi kambing di Bantul yang memprihatinkan.

Kepala Diperpautkan Bantul, Pulung Hariyadi, mengatakan swasembada daging kambing sudah tercapai di Bantul. Namun belum bisa memasok ke luar daerah. Pulung mengatakan banyaknya warung sate klathak di Bantul termasuk salah satu penyebab tipisnya populasi kambing di Bantul.

"Ada beberapa lokasi [warung sate klathak] yang menghabiskan 50.000 ekor kambing per hari. Padahal populasi kambing kita [Bantul] hanya sekitar 157.000," kata Pulung.

Oleh karena itu Diperpautkan Bantul tak hanya menambah populasi kambing melalui pembelian namun juga melalui inseminasi buatan. Namun untuk inseminasi buatan untuk kambing, Pulung hanya menargetkan sekitar 3000 sampai 4000 inseminasi buatan yang diperkirakan akan menghasilkan 3000 sampai 3500 anak kambing.

Sesuai dengan amanat Bupati Bantul, Diperpautkan Bantul sudah mulai mengelola peternakan kambing di Nawungan, Selopamioro, pada 2017. Terdapat 90 ekor kambing milik kelompok ternak yang diletakkan dalam kandang komunal.

Sedangkan pada tahun ini, Diperpautkan Bantul sudah survey ke dua titik lokasi yaitu Kretek dan Dlingo untuk peternakan kambing komunal. "Di Kretek lahan pakannya disiapkan 4,5 hektare, kalau di Dlingo belum ada. Kami masih plotting, survey lokasi," kata Pulung.

Harapannya peternakan komunal dapat mempermudah koordinasi dan pemantauan populasi kambing. Mengingat peternakan kambing di Imogiri juga harus memenuhi kebutuhan daging kambing nasional.