Gunungkidul Makin Dikenal Luas, Warga Asli Harus Pertahankan Ciri Khas

20 Februari 2018 00:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Pesatnya perkembangan kepariwisataan tidak hanya menjadikan Gunungkidul sebagai daerah tujuan wisata utama di DIY

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Pesatnya perkembangan kepariwisataan tidak hanya menjadikan Gunungkidul sebagai daerah tujuan wisata utama di DIY. Namun, perkembangannya juga berdampak terhadap makin dikenalnya wilayah-wilayah yang di Bumi Handayani secara lebih luas.

Namun demikian, perkembangan ini dibayang-bayangi adanya pengaruh yang kurang baik. Salah satunya menyangkut cirikhas dan identitas yang dimiliki masyarakat. Oleh karenanya, dampak negatif dari pariwisata harus ditekan seminimal mungkin sehingga modal sosial yang dimiliki dapat menjadi ciri khas dalam pengembangan sektor kepariwisataan.

Ketua Lembaga Sentra Pemuda Desa Nglanggeran Sugeng Handoko mengatakan, pesatnya perkembangan pariwisata di Gunungkidul tidak hanya memberikan dampak terhadap tingginya tingkat kunjungan. Namun juga berdampak terhadap pengenalan wilayah yang ada di Gunungkidul.

Sebagai contoh, lanjut dia, daerah di Desa Ngelanggeran makin dikenal luas seiring dengan datangnya pengunjung ke sejumlah obyek yang dimiliki. “Sebelum ada obyek wisata, mungkin tidak banyak orang yang tahu. Tapi sekarang, orang akan mudah mengenal Nglanggeran,” katanya kepada Harianjogja.com, Minggu (18/2/2018).

Menurut Sugeng, dampak positif dari keberadaan obyek wisata tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Nglanggeran. Namun desa-desa lain juga mulai ikut bergeliat sehingga menjadi modal untuk pengembangan pariwisata yang lebih baik lagi.

“Dampaknya memang sudah bisa dirasakan dan sebagai buktinya di sekitar Nglanggeran juga bermunculan obyek wisata baru,” ungkapnya.

Disinggung mengenai potensi anak sekolah yang memilih keluar dan ikut berpartisipasi dalam pengelolaan, Sugeng menampik adanya potensi tersebut. Menurut dia, partisipasi warga yang masih berada di usia sekolah hanya sebatas kegiatan karang taruna.

Adapun kegiatan yang dilakukan hanya sebatas kebersihan lingkungan, rekreasi dan pelestarian seni budaya seperti kegiatan karawitan. “Untuk terjun jadi pengelola tidak ada,” kata Sugeng.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Direktur BUMDes Bejiharjo Saryanto. Menurut dia, untuk jasa pemandu susur Goa Pindul tidak melibatkan anak-anak di bawah umur. “Pemandu yang dimiliki rata-rata berusia di atas 25 tahun. Sedang untuk anak-anak tidak ada,” katanya.

Anggota Dewan Riset Daerah Gunungkidul Ahmad Ma’ruf mengatakan perkembangan pariwisata memiliki dampak bak mata pisau. Di satu sisi, perkembangan tersebut dapat memberikan dampak yang positif karena dapat mendorong pembangunan serta kesejahteraan masyarakat. Namun di sisi lain, perkembangannya juga dapat menggerus indentitas yang dimiliki masyarakat lokal.

“Sebagai gambaran DIY sudah kehilangan ruhnya karena ciri khas yang dimiliki sudah tidak terlihat. Salah satunya bagaimana bangunan tradisional banyak diganti dengan megahnya pembangunan hotel,” katanya dalam acara draf rancangan awal RKPD 2019 di kantor Pemkab Gunungkidul, Jumat (2/2/2018) lalu.

Menurut dia, untuk Gunungkidul ciri khas tersebut masih ada, baik dari bentuk bangunan maupun karakteristik masyarakat. Oleh karenanya, dosen UMY ini meminta agar modal sosial itu dapat dijaga dan dijadikan sebagai dasar dalam pengembangan sektor kepariwisataan.

“Rasa solidaritas yang dimiliki warga masih tinggi dan ini harus dipertahankan sehingga tidak hilang karena pesatnya kunjungan wisata,” ungkapnya.