Karnaval PBTY Dimeriahkan Kesenian Nusantara

26 Februari 2018 01:13 WIB Eko Purnomo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2018 tak ingin menampilkan wajah yang ekslusif. Para penyelenggaranya berhasrat menjadikan PBTY tak hanya jadi milik para perantau dari negeri Tiongkok, tapi seluruh masyarakat Indonesia.

Sejak matahari belum benar-benar tenggelam ke peraduan, panggung PBTY 2018 di Alun Alun Utara sudah dipenuhi oleh masyarakat, Sabtu (24/2/2018). Mereka ingin menghabiskan malam minggu dengan menikmati produk kebudayaan Tiongkok. Para penonton disediakan tempat duduk berundak, seperti layaknya di stadion sepak bola.

Supaya tertib dan enak dilihat, para penonton dipisahkan pagar dengan panggung dan tenda untuk duduk para pembesar. Sebelum acara benar-benar mulai, penonton dihibur Progo Band Polda DIY. Jika ditinjau dari namanya, tentu bisa diketahui, personelnya adalah para polisi. Sang vokalis yang bersuara serak dengan penuh dedikasi menghibur penonton seperti layaknya musisi profesional.

Progo Band Polda DIY membawakan beberapa lagu. Salah satunya Akad-nya Payung Teduh. Selepas itu MC mengambil alih acara. Mengucap salam bagi para pembesar yang hadir dan sejurus kemudian permainan lampu di panggung membuat penonton kagum sejenak. Karena permainan lampu itu mereka sempat bertepuk tangan, walau tak keras-keras amat.

Di tengah-tengah permainan lampu itu, remaja-remaja tanggung dari Sekolah Budi Utama masuk panggung dan mulai memainkan drum yang telah ditata di panggung. Kata MC, mereka sedang memainkan Chinese Drum.

Lalu berturut-turut tampil : Pasukan? Bergada dari Paguyuban Hakka, yang juga memainkan tarian kolosal, tarian naga dari Hoo Hap Hwe Jogja, penampilan maskot PBTY 2018, yang itu adalah seekor anjing yang memakai jubah warna merah, tarian nusantara, drumband Gita Dirgantara dari Akademi Angkatan Udara Jogja dan masih banyak lainnya.

Tak lupa, enam pemenang Jogja Dragon Festival VII, yang berparade dari Taman Khusus Parkir Abu Bakar Ali juga turut tampil dihadapan Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti.

Di saat yang hampir bersamaan, di panggung utama PBTY 2018 yang berlokasi di Ketandan, juga sedang memainkan Tari nawung sekar, renggong manis (Betawi) danTari golek lambangsari. Kita tahu kesenian-kesenian ini bukan hasil kebudayaan Tiongkok, tapi berasal dari Nusantara.

Memang PBTY 2018, tak melulu menampilkan kebudayaan Tiongkok, walaupun acaranya memang fokus pada hal tersebut. Selama tujuh hari pelaksaan, sesekali akan muncul produk kebudayaan Nusantara, seperti Gerak dan lagu Yamko Rambe Yamko dan Tari Kalimantan.

Tema yang diangkat, Harmono Budaya Nusantara, seakan menegaskan betapa PBTY tak ingin tampil tertutup. Gelaran ini dirancang jadi sesuatu yang bisa dimiliki siapapun, bukan hanya warga keturunan saja.

Koordinator Humas dan Publikasi PBTY 2018 Ng Liong Ho menyebut, pihaknya Ingin menyumbangkan sesuatu yang positif bagi Indonesia. “Kita sebagai bangsa memang memiliki budaya yang berbeda-beda, tapi seharusnya perbedaan tidak bukan menghambat tapi justru jadi kekuatan untuk membangun indonesia yang lebih maju,” ucapnya di sela-sela pembukaan PBTY 2018.