Film Sultan Agung Digarap di Studio Alam Gamplong

14 Maret 2018 09:40 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Studio alam Gamplong bernuansa sejarah.

Harianjogja.com, SLEMAN--Desa wisata ini terletak di Padukuhan Gamplong yang terletak di Dusun Gamplong, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman kini tak hanya terkenal sebagai penghasil tenun serat alami. Kawasan wisata tersebut kini menjadi studio pembuatan film nasional.

 

Desa Wisata Gamplong selama ini dikenal memproduksi beragam kerajinan tenun, seperti taplak tenun, tas, dan yang paling terkenal adalah produk stagennya. Gamplong pernah berjaya sebelum era 2000. “Dulu di sini seperti kampung Belanda. Orang-orang Belanda dan luar negeri lainnya berbaur dengan masyarakat. Namun sejak bom Bali satu dan dua, Gamplong sepi,” tutur Bagor, salah satu pengelola Desa Wisata Gamplong, Kamis (8/3/2018) lalu.

Kegiatan tenun sempat redup. Anak cucu banyak yang merantau sehingga sumbangsih untuk Gamplong kurang. Bagor dan perangkat desa Sumberrahayu memiliki keinginan besar menghidupkan Gamplong kembali seperti sedia kala. Namun, anggarannya susah serta ada keterbatasan untuk mendirikan bangunan. “Di Moyudan unggulannya pertanian jadi sangat susah untuk bisa melakukan pengembangan dengan pembangunan fisik, jadi memang larinya hanya bisa ke wisata alam,” katanya.

Pada pertengahan 2017 lalu pun, keinginan itu terjawab saat Bagor dan perangkat desa bertemu dengan dedengkot Dapur Film yang digawangi oleh sutradara kondang Hanung Bramantyo. Hanung sedang blusukan ke Moyudan untuk mencari lokasi syuting film Sultan Agung.

Bak gayung bersambut, akhirnya kedua belah pihak sepakat memanfaatkan lahan kas desa yang ada di tengah Dusun Gamplong untuk dijadikan studio alam untuk mendukung proses syuting film Sultan Agung. Lahan yang dipakai berupa lapangan sepak bola. Setelah kesepakatan itu terjadi, lapangan bola direlokasi dan dibangun sesuai standar nasional dan lapangan bekas serta area di sekitarnya seluas 2,7 hektare itu dibangun menjadi studio alam dengan nuansa Kraton Mataram sebagai lokasi utamanya.

Jadi Ikon Baru

Dengan biaya dari pembuat film, Gamplong akhirnya memiliki sebuah studio alam megah yang tidak hanya bisa dinikmati warga tetapi juga wisatawan yang berkunjung. Selain bangunan Kraton Mataram, di Studio Alam Gamplong ini juga ada kompleks Kampung Mataram yang terdiri dari rumah-rumah Jawa kuno dari anyaman bambu, Kampung Belanda, Kampung Pecinan, dan juga miniatur Kali Ciliwung. Semua spot cocok digunakan sebagai tempat berswafoto. Para wisatawan sekaligus dapat belajar budaya dan sejarah di tempat itu.

Kampung Mataram menghadirkan suasana kampung khas pedesaan. Rumah-rumahnya saling berhadapan mengelilingi halaman luas. Di halaman itu sebuah gerobak kayu dimanfaatkan warga untuk menjemur kayu manis. Selain rumah warga, di kompleks itu juga ada kandang sapi. Semua bangunannya menggambarkan kehidupan masyarakat era 1600an.

Sementara di Kampung Belanda, sebuah benteng besar menjadi pintu gerbang sekaligus pertahanan bagi penjajah VOC dari ancaman orang pribumi. Ada meriam yang siap menjadi senjata melawan musuh serta ada rumah khas Belanda yang jadi perlindungannya. Di depan benteng berdiri tegak sebuah jembatan yang dibangun di atas sungai. Sungai buatan itu sebagai replika dari Sungai Ciliwung. Ada pula kompleks pecinan yang dipenuhi dengan rumah-rumah warga Tionghoa, lengkap dengan perlengkapan berdagangnya.

Sementara di kompleks Kraton Mataram, sebuah pendapa besar lengkap dengan pasewakannya atau ruang pertemuan raja dengan hulu balangnya, berdiri tegap di tengah benteng khas Mataraman.

Pascasyuting Sultan Agung, Hanung menghibahkan studio alam ini untuk warga. Rencananya, studio alam ini akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada awal Mei 2018 mendatang sebagai sebuah destinasi baru di Desa Wisata Gamplong. “Studio alam ini menjadi ikon baru di Desa Wisata Gamplong ini,” kata Kepala Desa Sumberrahayu Sigit Tri Susanto.

Gamplong siap menerima wisatawan yang ingin menginap. Setidaknya ada 200 rumah warga yang bisa dimanfaatkan sebagai homestay.