Banyak Warga di DIY Belum Paham tentang Musicool

19 Maret 2018 06:20 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Penjualan produk Musicool di region DIY masih terbilang rendah

 

Harianjogja.com, JOGJA – Konsumsi chlorofluorocarbon (CFC) dan Hydrochloroflourocarbon (HCFC) diprediksi akan mengalami penurunan sebesar 67,5% pada 2019. Di sisi lain, penjualan produk Musicool di region DIY masih terbilang rendah dan banyak agen serta teknisi Musicool belum mengikuti pelatihan mengoperasikan Musicool.

Oleh karena itu, sebagai agen Musicool di DIY, PT Ibu Bumi Lestari Yogyakarta bersama PT Pertamina region DIY Jateng mengadakan sarasehan bersama teknisi dan agen Musicool di DIY. Tujuannya adalah untuk memaparkan berbagai permasalahan yang dihadapi agen dan teknisi dalam memasarkan serta memasang Musicool.

Seperti yang telah diketahui, Peraturan Menteri Perindustrian nomor 41 tahun 2014 telah melarang penggunaan chlorofluorocarbon (CFC) dan Hydrochloroflourocarbon (HCFC) yang merupakan Bahan Perusak Ozon (BPO). Biasanya ditemukan pada mesin pendingin seperti AC dan pendingin di kendaraan. Menanggapi peraturan tersebut, pada 2003 PT Pertamina mengeluarkan produk pengganti CFC dan HCFC yang tidak mengandung BPO yaitu Musicool.

Sales Executive LPG and Gas Product Region DIY Jateng, Agung Surya Pranata, mengatakan banyak keunggulan dari Musicool yang belum diketahui oleh masyarakat.

“Produk yang resmi dijual pada 2005 ini tidak mengandung BPO, sudah SNI, tidak merusak mesin pendinginan dan mampu menghemat banyak biaya energi,” kata Agung dalam Sarasehan Musicool di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Minggu (18/3/2018).

Agung mengatakan ada beberapa jenis Musicool yaitu MC 22 sebagai pengganti R22 pada AC dan MC 134 sebagai pengganti RC 134A pada mesin pendingin kendaraan. Meskipun memiliki banyak keuntungan, Agung mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap Musicool mudah terbakar.

Oleh karena itu, sudah merupakan tugas agen dan teknisi untuk meningkatkan kualitas agar bisa menangani berbagai permasalahan pada Musicool. “Sudah ada hotel di Batam yang menggunakan Musicool, mereka mampu menghemat biaya listrik sebesar Rp33 Juta,” kata Agung.

Dalam sarasehan tersebut, turut hadir Ketua Komunitas Hidrokarbon Indonesia, Dedi Rahmat. Dedi mengungkapkan peserta sarasehan dibagi menjadi dua kelompok. Pertama adalah agen dan teknisi yang belum mengikuti pelatihan. Kedua adalah agen dan teknisi yang telah mengikuti pelatihan namun masih harus ditingkatkan skill penjualannya.

“Permasalahannya kan banyak masyarakat yang takut pakai Musicool karena dianggap mudah terbakar, agen dan teknisi juga belum terlalu menguasai cara mengatasi masalah pada Musicool. Oleh karena itu teknisi harus dilatih agar bisa mengatasi permasalahan seperti kebocoran gas dan udara yang tidak dingin,” kata Dedi.

Permasalahan kedua adalah harga Musicool yang dianggap masyarakat terlalu tinggi. Dedi berharap dengan adanya sarasehan dan tanya jawab antara agen, teknisi dan PT Pertamina, mereka dapat mengikuti pelatihan dan meningkatkan kualitasnya.

“Kalau harga bisa dibawah Rp400.000 atau Rp400.000 saya rasa masyarakat akan mau beli, tapi harus diimbangi dengan kualitas agen dan teknisi juga,” kata Dedi.

Kegiatan sarasehan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan demo Retrofiting dihadapan para peserta sarasehan. Proses tersebut merupakan langkah penggantian R22 dengan Musicool. Technical Support PT Ibu Bumi Lestari, Vendi Agus Dermawan, mengatakan teknisi dan agen sudah mengetahui prosesnya, namun belum begitu paham prakteknya.

“Kalau hanya google sudah banyak yang mengerti, tetapi kalau praktek rincinya belum, harapannya dengan adanya sarasehan ini komunikasi agen dan teknisi menjadi lebih baik,” kata Vendi.