Taru Martani Bantah Tak Terapkan SUSU, Ini Hasil Pemeriksaan Disnakertrans DIY
PT Taru Martani membantah tak menerapkan SUSU. Manajemen menyebut pemeriksaan Disnakertrans DIY tak menemukan pelanggaran norma ketenagakerjaan.
Tanaman Padi Belut yang dipamerkan pada Gelar Potensi Pertanian di Lapangan Balaikota Jogja, Kamis (12/4)/JIBI-Harian Jogja-Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, JOGJA- Gelar Potensi Pertanian tahun ini menghadirkan beragam potensi unik. Salah satunya, potensi penanaman padi, sayuran dan tanaman pangan lainnya di kawasan perkotaan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Sugeng Darmanto mengatakan metode penanaman dilahan pekarangan mulai dilakukan oleh masyarakat. Salah satunya dengan menanam padi belut yang dilakukan warga Tompeyan Tegalrejo. Warga memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di rumah dengan tananam padi.
"Dengan begini, meskipun luas lahan pertanian di Kota Jogja terbatas, namun kami tetap mampu mengembangkan sektor pertanian," katanya di sela-sela Gelar Potensi Pertanian, Kamis (12/4/2018).
Pengembangan Padi Belut ini, katanya dilakukan oleh Kelompok Tani Perkotaan Sidodadi Tompeyan. Mereka menanam padi di kontainer plastik sembari memelihara belut. Bahkan kelompok ini mampu memanen dua kali Padi Belut.
Sebenarnya kata Sugeng, tidak hanya di Tompeyan, metode bertani dengan memanfaatkan lahan pekarangan sudah banyak dilakukan oleh kelompok tani di hampir semua kecamatan. Hanya saja, produk tanamannya berbeda-beda. Seperti sayur-sayuran, cabai maupun tanaman hias.
"Istilahnya ini metode budi daya vertikultu. Beberapa produk selada dari kelompok tani ada yang masuk ke pasar swalayan dan digunakan oleh salah satu hotel berbintang," kata Sugeng.
Ketua Gabungan Kelompok Tani Perkotaan Sidodadi Eka Yulianta mengatakan padi belut yang ditanam warga Tompeyan sudah dua kali panen. Hasilnya pun dinilai bagus. "Kualitas dan kuantitas butir dan kandungan ainya lebih bagus dibandingkan padi di sawah. Padahal kami hanya menggunakan varietas IR 64," katanya.
Menurutnya, tanaman padi yang dihasilkan adalah padi organik karena menggunakan media tanam dari batang pisang yang divermentasikan ditambah kompos daun dan kotoran hewan. Tanaman padi belut yang dibudidayakan warga tidak pernah terserang hama.
Beras yang dihasilkan pun berkualitas baik, bahkan bisa bertahan sekitar dua hari setelah dimasak. "Kami tidak menggunakan pupuk pabrikan dan tidak menggunakan pestisida apapun. Jadi sangat aman," katanya.
Saat ini, di Tompeyan baru terdapat sebanyak 40 kontainer padi belut. Jumlah tersebut akan bertambah menjadi 1.500 kontainer plastik pada Oktober nanti. "Dari setiap kontainer plastik, bisa menghasilkan sekitar 0,6 kilogram gabah dan enam hingga delapan ekor belut," katanya.
Sekretaris Daerah Kota Jogja Titik Sulastri berharap, Gelar Potensi Pertanian tersebut mampu memberikan informasi yang lebih lengkap kepada kelompok tani lainnya terkait perkembangan teknologi pertanian. Sebab penggunaan teknologi dan metode pertanian terbaru dinilai penting untuk menyiasati keterbatasan lahan pertanian namun tetap menghasilkan produk yang optimal.
"Kalau inovasi di bidang pertanian terus dilakukan maka kesejahteraan petani akan semakin meningkat. Yang paling penting ketahanan pangan warga perkotaan tetap terjaga," harapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PT Taru Martani membantah tak menerapkan SUSU. Manajemen menyebut pemeriksaan Disnakertrans DIY tak menemukan pelanggaran norma ketenagakerjaan.
Joshua Zirkzee mencetak gol penentu kemenangan Belanda 2-1 atas Serbia pada UEFA Nations League di Phillip Stadion, Eindhoven.
Undip dan ITS meraih total empat gelar juara KMHE 2026 di Unej. Simak daftar lengkap pemenang delapan kelas kompetisi.
Manunggal Fair Kulonprogo 2026 digelar tanpa APBD dan melibatkan 125 UMKM lokal. Pengunjung hingga hari ketujuh melampaui 100 ribu orang.
Lionel Messi akan menjalani laga terakhir bersama Argentina melawan Benin. Lionel Scaloni memprediksi momen itu sangat emosional.
Jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis tersedia enam kali sehari dengan tarif Rp12.000. Simak jadwal pergi dan pulang selengkapnya.