123.779 KK Sleman Sudah Daftar Perlinsos, Mayoritas Lewat Agen
Sebanyak 123.779 KK telah mendaftar Perlinsos Sleman. Sebanyak 79,48% menggunakan bantuan agen, sedangkan 20,52% mendaftar mandiri.
Pedagang cabai rawit merah. - Foto ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, SLEMAN— Nilai ekspor cabai asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melonjak pada 2026. Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Yogyakarta atau Karantina Jogja mencatat nilai pengiriman mencapai Rp749,9 juta dari dua kali pengiriman.
Nilai tersebut sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan total ekspor cabai sepanjang 2025. Pada tahun lalu, Karantina Jogja mencatat enam kali pengiriman cabai ke pasar internasional dengan nilai keseluruhan Rp369,4 juta.
Nilai Pengiriman Cabai DIY Meningkat
Meski frekuensi ekspor cabai pada 2026 lebih sedikit, nilai setiap pengiriman justru meningkat signifikan. Rata-rata nilai satu pengiriman pada 2026 mencapai sekitar Rp375 juta.
Sebagai pembanding, rata-rata nilai pengiriman cabai pada 2025 hanya sekitar Rp61,6 juta. Dengan demikian, nilai rata-rata setiap pengiriman pada 2026 meningkat jauh dibandingkan tahun sebelumnya.
Sepanjang 2025, cabai asal DIY dikirim ke Jepang, Rusia, Prancis, dan India. Sementara pada 2026, pengiriman cabai tercatat menuju Jepang dan Singapura.
Kepala Karantina Jogja, Obing Hobir, mengatakan cabai merupakan salah satu komoditas unggulan DIY yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan di pasar internasional.
"Jepang adalah salah satu pasar non-tradisional yang sangat potensial untuk cabai beku. Namun untuk masuk ke sana, pelaku usaha wajib memenuhi standar karantina dan keamanan pangan yang ketat," kata Obing dalam Webinar Go Ekspor seri kesembilan di Kantor Balai Karantina Yogyakarta, Depok, Sleman, Rabu (9/9/2026).
Produksi Cabai DIY Capai 5.183 Ton
Peluang ekspor cabai DIY didukung oleh potensi produksi yang cukup besar. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, produksi cabai DIY mencapai 5.183 ton dari lahan seluas 3.842 hektare.
Sentra produksi cabai tersebut tersebar di empat kabupaten, yakni Bantul, Sleman, Gunungkidul, dan Kulonprogo. Potensi produksi tersebut menjadi salah satu modal bagi pengembangan pasar cabai DIY ke tingkat internasional.
Obing mengatakan peningkatan nilai ekspor menunjukkan adanya peluang bagi komoditas pertanian daerah untuk menembus pasar global. Namun, pelaku usaha tetap harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan negara tujuan, khususnya terkait keamanan pangan dan karantina.
Pemda DIY Dorong Pasar Ekspor Baru
Di sisi lain, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Anton Rahardja, mengatakan pemerintah daerah siap mendukung pelaku usaha dalam mencari peluang pasar ekspor baru.
"Kami siap bersinergi dan berkolaborasi agar potensi ekspor di Yogyakarta bisa menjangkau pasar dunia, tidak hanya Jepang tapi juga Eropa dan seluruh Asia," kata Anton.
Dengan potensi produksi yang tersebar di empat kabupaten, komoditas cabai menjadi salah satu produk pertanian DIY yang memiliki peluang untuk memperluas pasar internasional. Peningkatan nilai pengiriman pada 2026 juga menunjukkan potensi tersebut mulai berkembang meski jumlah pengiriman masih terbatas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 123.779 KK telah mendaftar Perlinsos Sleman. Sebanyak 79,48% menggunakan bantuan agen, sedangkan 20,52% mendaftar mandiri.
Kapolri Listyo Sigit meminta pengusaha melapor jika menemukan premanisme dan pungli yang mengganggu usaha serta iklim investasi Indonesia.
Jadwal lengkap Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026. Garuda menghadapi Singapura, Malaysia, dan Bangladesh di babak grup.
BMKG menegaskan tangkapan layar akun @infobmkg yang beredar di media sosial merupakan hasil rekayasa dan memicu kesalahpahaman.
Harga masker tertekan setelah erupsi Anak Krakatau. Stok ritel menipis, tetapi kapasitas produksi dalam negeri masih sangat longgar.
Penumpang KA Bandara YIA PSO mencapai 1,23 juta orang hingga Agustus 2026, naik 2,97% dibanding periode yang sama tahun lalu.