Advertisement
Perusakan Properti Sedekah Laut, Pusham UII Kecam Tindak Kekerasan di DIY
Prosesi sedekah laut dalam menyambut Tahun Baru Islam 1440 Hijriah di Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Senin (10/9). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA--Pusat Studi Hukum dan HAM Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) turut angkat bicara atas tindakan perusakan properti sedekah laut di Pantai Baru, Bantul, Jumat (12/10/2018). Pusham UII tidak membenarkan tindakan kekerasan apapun alasannya.
"Catatan penting saya adalah tindakan kekerasan oleh masyarakat sipil apapun alasannya adalah tidak sah," ujar Direktur Pusham UII, Eko Riyadi, kepada Harian Jogja, Selasa (16/10/2018).
Advertisement
Eko mendesak kepolisian harus mengusut tuntas dan memproses hukum para pelaku sebagai pesan kepada publik bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang menghargai keanekaragaman masyarakat. Oleh karena itu, saling menghormati perbedaan, baik bahasa dan agama atau keyakinan, harus digelorakan bersama.
Jika setiap orang atau sekelompok orang diberi kebebasan menggunakan kekerasan untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya atas tindak laku orang atau kelompok lain, maka setiap hari negara ini akan didera konflik sosial.
BACA JUGA
Menurut dia, kasus tersebut menjadi tugas bersama para tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemerintah khususnya Pemda DIY untuk memberikan pemahaman kepada publik. "Sulit untuk menyatakan siapa yang paling bertanggungjawab, namun ini menjadi pekerjaan rumah bersama," katanya.
Dikatakan Eko, pemuka agama harus mengajarkan keyakinan sedalam dalamnya akan kebenaran agama, dengan tetap memberi ruang tafsir yang berbeda dan penghargaan akan perbedaan tersebut.
Dia mengatakan untuk menghindari kasus tersebut terulang lagi pendidikan yang paling baik adalah melalui perjumpaan (live in) secara bersama dengan komunitas yang berbeda. Bukan justru sebaliknya, membangun komunitas eksklusif dengan ide segregasi sosial dan doktrin keyakinan yang memisah-misahkan.
Menurut Eko, pendidikan semacam itu belum berjalan dengan baik saat ini. Akhir-akhir ini justru yang terjadi sebaliknya. Pendidikan khususnya yang informal dan mulai merangsek ke pendidikan formal justru semakin menjauh dari spirit kemajemukan berbangsa dan bernegara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kebijakan WFH Satu Hari Dinilai Belum Berdampak pada Penghematan BBM
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Kunjungan di Breksi Diperkirakan Tak Seramai Tahun Lalu
- Ingin Berlibur ke Solo tanpa Macet, Cek Jadwal KRL Minggu 22 Maret
- Catat bagi Warga Soloraya, Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 22 Maret 2026
- Ingin Balik setelah Lebaran di Jogja, Ini Jadwal KA Bandara YIA
- Jadwal KA Prameks Rute Kutoarjo-Jogja Minggu 22 Maret 2026
Advertisement
Advertisement







