Pilpres 2019, 3 Kelompok Ini Berpotensi Golput

Calon Presiden dalam Pilpres 2019 Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Capres Prabowo Subianto di sela-sela pengambilan nomor urut pasangan calon untuk pemilihan Presiden 2019, di kantor KPU, Jakarta, Jumat (21/9/2018). - Reuters/Darren Whiteside
19 Desember 2018 08:10 WIB Yogi Anugrah Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Hicon Law & Policy Strategic memprediksi ada tiga kelompok yang berpotensi tidak memilih atau golongan putih (golput) pada Pilpres 2019 mendatang.

Kepala Departemen Politik Hicon, Puguh Windrawan menjelaskan ketiga kelompok tersebut adalah kelompok pro Ahok yang kecewa terhadap pilihan cawapres Jokowi, yaitu Maruf Amin, penggiat hak asasi manusia (HAM) yang kecewa terhadap Pemerintahan Jokowi, dan tidak mungkin memilih Prabowo karena masa lalunya.

"Yang ketiga adalah penggiat gender, yang merasa bahwa visi misi kedua paslon belum terlalu memihak kesejahteraan perempuan," ujar dia dalam diskusi media di salah satu kafe di wilayah Sleman, Selasa (18/12/2018).

Puguh mengatakan angka golput akan semakin tinggi jika strategi kampanye yang diusung oleh kedua pasangan capres-cawapres belum mengarahkan kampanye ke tiga agenda, yaitu penegakan hukum, penegakan hak asasi manusia, dan isu gender.

"Kalau bicara angka, kami memprediksi angka golput tak akan jauh dari angka 29 persen hingga 30 persen," ucap dia.

Ia menambahkan pihaknya memprediksi pada Januari hingga April, pemilu akan dinamis, sebab kedua pendukung paslon capres-cawapres akan cenderung agresif.

"Konsentrasi massa akan digunakan untuk kampanye karena terbukti menaikkan elektabilitas pasangan calon no 2 sehingga akan rentan konflik di akar rumput," ujarnya.

Allan FG Wardhana, Kepala Departemen Hukum Hicon Law and Policy Strategic, mengatakan dari hasil mapping, pihaknya menemukan dua isu politik yang masih kuat pada Pilpres 2019 mendatang, yaitu politik uang dan politik SARA.

"Bawaslu dan KPU sangat kerepotan mengatasi dua isu ini. Padahal dua isu ini sentral, tetapi tidak pernah selesai. Instrumen hukumnya juga lemah," katanya.

Menurut dia, golput bisa dipengaruhi oleh dua isu tersebut. Karena kampanye menggunanan isu SARA akan membuat orang tidak percaya dengan visi-misi paslon yang diusung karena terus digempur dan politik uang juga jadi pemicunya. "Padahal kedua paslon memiliki visi-misi yang bagus," ujarnya.