Gusdurian hingga Barongsai Meriahkan Koko Cici 2019

Salah satu finalis Koko Jogja 2018 saat menjawab pertanyaan dari juri dalam seleksi final Koko Cici Jogja 2018 di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) Februari lalu. - Harian Jogja/Holy Kartika N.S
10 Januari 2019 11:30 WIB Rheisnayu Cyntara Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Ada yang berbeda dengan penyelenggaraan duta budaya Tinghoa, Koko Cici Jogja 2019 kali ini. Berbagai elemen masyarakat dirangkul, mulai dari Komunitas Gusdurian Jogja hingga Barongsai dan Liongshow Hoo Hap Hwee Jogja akan turut berpartisipasi dalam pemilihan duta budaya ini. Asas keberagaman sangat dijunjung tinggi.

Penanggungjawab Media Partner Pemilihan Koko Cici Jogja 2019, Ferdyanto Wijaya mengakui pemilihan Koko Cici kali ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini akan ada acara spesial yaitu Chinese Culture Fest (CCF) yang akan menghadirkan beberapa tamu, ykni Jogja Chinese Art Culture Centre (JCACC), Didik Nini Thowok, Komunitas Gusdurian Jogja, Museum Batik, Jogja Diabolo Squad, dan barongsai liongshow dari Hoo Hap Hwee Jogja. Acara yang akan diselenggarakan pada 19 Januari mendatang ini merupakan salah satu rangkaian penilaian peserta Koko Cici Jogja 2019.

Ferdy menjelaskan acara yang digelar di Perkumpulan Budi Abadi ini akan berformat workshop kebudayaan. Seluruh peserta yang mendaftar bisa mengikuti presentasi materi terkait akulturasi budaya Tionghoa di Jogja dari para tamu tersebut. Mereka sekaligus akan dinilai untuk mengikuti pemilihan tahap selanjutnya. "Harapan kami, mereka juga bisa bergabung ke komunitas-komunitas tersebut. Karena budaya Tionghoa ini kan sangat beragam. Ada berbagai aspek yang ada di dalamnya," katanya kepada Harian Jogja, Rabu (9/1).

Keragaman tersebut yang berusaha diwadahi oleh panitia Koko Cici Jogja 2019 dan diwujudkan dengan mendatangkan para tamu dari berbagai kalangan. Museum Batik misalnya akan memberikan materi tentang batik peranakan, yakni motif batik yang tidak terpisahkan dari kultur etnis Tionghoa, Arab, Belanda, India dan Jepang yang tinggal di kota sepanjang pesisir pantai utara Jawa. Kemunculan batik peranakan yang bermula dari asimilasi Batik Jawa dengan desain para pendatang yang menghasilkan corak ragam yang kaya akan warna akan dijelaskan oleh tamu dari Museum Batik.

Sementara maestro tari Didik Nini Thowok akan memberikan materi tentang make up untuk pertunjukan Chinese Opera. Didik yang memang sudah profesional dalam hal rias pertunjukan dan telah menerbitkan buku khusus berjudul Stage Make up akan membagikan ilmunya. Sebab riasan Chinese Opera yang banyak digunakaan saat ini bukanlah rias asli asal Tiongkok. Namun sudah merupakan riasan yang berakulturasi dengan budaya lokal Indonesia.

Sedangkan Komunitas Gusdurian Jogja menurut Ferdy diundang untuk menyampaikan sejarah Tionghoa di era pemerintahan Presiden keempat RI tersebut. Sebab bukan rahasia umum pada era pemerintahannya Gusdur memiliki andil besar dalam upaya pengangkatan derajat orang Tionghoa. Gusdur berhasil mengikis sentimen masyarakat terhadap keturunan Tionghoa. Salah satunya mengeluarkan keputusan yang membebaskan masyarakat Tionghoa merayakan imlek.

Pasalnya pada era orde baru warga Tionghoa seperti terpinggirkan di Indonesia. Hal itu didukung dengan adanya peraturan dari pemerintah yang melarang segala atribut berbau Tiongkok termasuk simbol, bahasa, maupun budayanya.

"Kami ingin para peserta tahu sejarah tersebut sehingga mereka bisa tahu dimensi lain dari kebudayaan Tionghoa yang ada di Indonesia ini," tuturnya.