Warga Sleman Diminta Waspadai Siklus DBD Empat Tahunan

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
20 Januari 2019 18:17 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menghimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai siklus empat tahunan Demam Berdarah (DBD) di wilayah Sleman.

"Di Sleman, sejak 2006, ada siklus empat tahunan yang perlu diwaspadai. Dan 2019 ini masuk tahun keempat," kata Kabid Penanggulangan Penyakit Dinkes Sleman Novita Krisnaeni, Jumat (19/1/2019).

Lebih lanjut, Novita menjelaskan pada 2016 jumlah kasus DBD di Sleman mencapai 880 kasus dengan sembilan orang diantaranya meninggal dunia. Lalu pada 2017, jumlah itu menurun menjadi 427 kasus dengan empat orang meninggal dunia.

"Pada 2018 juga turun drastis menjadi 144 kasus dengan satu di antaranya meninggal dunia, hanya saja 2019 ini masuk tahun keempat, saya minta agar masyarakat semakin waspada," ujarnya.

Ia mengungkapkan, biasanya, pada puncak musim hujan periode Januari hingga Februari, kasus DBD akan meningkat, hal tersebut berkaitan dengan banyaknya genangan air.

Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sleman, Dulzaini mengatakan, daerah yang beririsan langsung dengan kota menjadi tempat paling rawan terhadap kasus DBD.

"Hal tersebut disebabkan karena tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Ditambah pola hidup masyarakat dan lingkungan yang cenderung kumuh," katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya sering melakukan fogging untuk membunuh indukan nyamuk. Fogging tersebut, kata dia, dilakukan oleh pihaknya secara gratis. "Kami juga mengimbau agar masyarakat menerapkan prinsip 3M. Menguras, menutup dan yang terakhir bukan lagi mengubur tapi mendaur ulang," ucapnya.