PENATAAN KOTABARU: Stadion Kridosono Bakal Dipugar, Punya Parkir Bawah Tanah

Puluhan warga mengantre untuk memperpanjang masa berlaku Surat Izin Mengemudi (SIM) di mobil layanan SIM keliling di Stadion Kridosono, Kotabaru, Yogyakarta. - Harian Jogja/Desi Suryanto
23 Januari 2019 16:15 WIB Abdul Hamid Razak & Nugroho Nurcahyo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Stadion Kridosono akan dipugar sebagai bagian dari penataan Kotabaru.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja sudah memiliki grand desain menjadikan stadion tersebut sebagai ruang publik.

Kelak, lahan yang sekarang dipakai oleh Stadion Kridosono akan dikeduk dan dibangun sebagai basement untuk parkir. Sementara, di atasnya dijadikan public space, fasilitas umum seperti taman kota, tempat olahraga dan lainnya.

“Rencana mulai dibangun 2021. Tergantung adanya anggaran. Kami masih berharap adanya Danais, bisa juga APBD ataupun APBN, untuk mewujudkan itu. Yang jelas ini membutuhkan kerja sama dan dukungan semua pihak,” kata Heroe kepada Harian Jogja, Selasa (22/1/2019).

Proyek besar tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun, Heroe belum bisa memastikan kebutuhan pastinya. Lahan parkir di Stadion Kridosono akan dipakai untuk menampung kendaraan wisatawan atau khalayak yang mengungjungi Kotabaru.

Penataan Kotabaru adalah proyek besar Pemkot Jogja untuk menjadikan kawasan tersebut destinasi wisata heritage. Pemerintah mengajak masyarakat setempat untuk terlibat aktif menonjolkan bangunan-bangunan berarsitektur Indies yang banyak berdiri di Kotabaru.

“Ini sifatnya masih persuasif. Tentu kami harus selesaikan masalah keamanannya dulu. Beberapa perkantoran siap menyambut tapi mereka butuh waktu terkait anggaran dan masalah keamanan di setiap jalan,” ucap Heroe.

PKL

Pedagang kaki lima (PKL) juga akan ditata. Kecamatan di sekitar Kotabaru sudah mencatat jumlah dan jenis PKL yang beroperasi di sana. Heroe mengharapkan agar PKL bisa bergabung dalam asosiasi. Para pedagang kelak tidak diperbolehkan berjualan di area pedestrian.

“Semacam food court. Ini agar Jogja menjadi ladang untuk semua, bisa memberikan kenyamanan bagi wisatawan. Jangan hanya berpikir bagaimana menghasilkan uang tetapi harus ikut menjaga dan menjadikan Jogja nyaman bagi wisatawan dan warga,” ujar Wakil Wali Kota Jogja.

Saat ini, penataan Kotabaru baru sampai tahap pemugaran trotoar di Jalan Suroto. Selanjutnya, trotoar di Jalan Jenderal Sudirman juga akan diperbaiki.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Jogja Agus Tri Haryono mengatakan material untuk trotoar di Jalan Jenderal Sudirman akan menyesuaikan dengan Jalan Suroto.

Namun, konsep penataan yang akan diterapkan di Jalan Jenderal Sudirman berbeda dengan konsep yang diterapkan untuk revitalisasi di Jalan Suroto Kotabaru karena nuansa kawasan di Jalan Jenderal Sudirman lebih mengarah pada kegiatan bisnis.

Ruas Jalan Jenderal Sudirman yang akan ditata dimulai dari simpang empat Gramedia hingga simpang tiga Jembatan Gondolayu. Sejumlah pot yang saat ini menjadi pembatas di sisi terluar trotoar akan dihilangkan, tetapi pohon perindang tetap akan dipertahankan. “Tentunya, kami ingin menguatkan citra kawasan di Jalan Sudirman agar semakin dinamis namun tetap seimbang,” kata Agus.

Sosialisasi

Sejumlah PKL di trotoar Jalan Jenderal Sudirman  sudah mendapat informasi rencana penataan trotoar menjadi kawasan pedestrian. Mereka juga sudah didata oleh petugas kelurahan.

Dyah, pemilik lapak PKL di samping Hotel Novotel mengaku mendapat informasi sekitar sepekan lalu dari petugas Kelurahan Terban, Gondokusuman. “Sudah diinformasikan. Katanya mau penataan, mau dibuat taman. Tetapi tidak tahu kapan mau mulai ditata,” kata pemilik lapak makanan dan minuman ringan serta rokok, Minggu (20/1/2019)

Suprapti, 67, pedagang lainnya di trotoar bagian utara Jalan Sudirman, juga mengaku sudah dua kali disambangi petugas kelurahan.

“Tiga atau empat hari lalu. Dua kali didatangi [petugas kelurahan],” ujar wanita yang karib disapa Prapti itu.

Petugas yang datang pertama, kata dia, meminta data pribadi dari KTP dan menginformasikan trotoar itu akan ditata oleh Pemerintah Kota Jogja seperti halnya Kawasan Pedestrian Kotabaru. “Tapi enggak tahu mau dibesarkan atau malah dikurangi lebarnya. Katanya dibuat lebih bagus, ada tamannya,” kata Prapti.

Petugas, kata dia, tidak memberitahukan apakah nanti para PKL masih dibolehkan berjualan di tempat itu, direlokasi di tempat lain, atau tidak dibolehkan jualan sama sekali.

“Enggak bilang apa-apa soal nanti harus bagaimana, saya juga enggak tanya,” ujar Prapti yang sudah 37 tahun berdagang nasi rames di trotoar Sudirman.

Pun saat petugas kedua dari Kelurahan Terban kembali datang mendata identitas plus memotret lapak PKL-nya, Prapti juga tidak menanyakan terkait dengan hal itu.

Jika diminta pindah atau dilarang berjualan, wanita yang sudah punya 11 cucu itu mengaku tidak keberatan. “Wong saya ini juga sudah tua, anak-anak saya juga sudah mentas semua.”