Ini Cara Satpol PP di Jogja Untuk Mencegah Terjadinya Vandalisme

Salah satu titik yang berpotensi dan sudah menjadi menjadi objek aksi vandalisme di Kota Jogja. - Harian Jogja/Uli Febriarni.
25 Februari 2019 07:57 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Jogja berencana meluncurkan program Panca Tertib (Pantib) for School pada 2019 ini. Saat ini dalam proses penilaian sekolah mana yang dianggap siap untuk menjadi sekolah pertama terpilih sebagai pelaksana Pantib for School.

Pelaksana Tugas Kepala Satpol PP Kota Jogja, Agus Winarto mengatakan, konsep Pantib for School hampir sama dengan kampung panca tertib. Pelaksanaan Pantib for School disesuaikan dengan lingkungan sekolah masing-masing. Sehingga sekolah satu dengan sekolah lain berbeda. Dari Pantib for School ini, diharapkan ke depan juga bisa mengurangi vandalisme di Kota Jogja.

Terlebih, selain sebagai bentuk perusakan, vandalisme menjadi salah satu perhatian Satpol PP Kota Jogja, karena umumnya tindakan itu menuliskan kelompok-kelompok tertentu. Hal itu berpotensi memancing keributan. Selain itu, vandalisme juga merugikan pihak lain.

"Coba kalau yang vandal itu misal rumahnya dicorat-coret, boleh tidak? Biasanya juga tulisan identitas kelompok tertentu, hal itu berpotensi untuk memancing keributan. Corat-coret itu perbuatan yang tidak dibenarkan," kata dia, Minggu (24/2/2019).

Agus optimistis, melalui Pantib for School akan berperan dalam mengurangi vandalisme dan kenakalan remaja lainnya yang umum dilakukan oleh pelajar. Sat Pol PP akan menindaktegas jika ada pelajar atau siapapun yang ketahuan melakukan corat-coret. Selain itu, jajarannya juga terus meningkatkan pengawasan dalam mengantisipasi vandalisme. Ia berharap, Pantib for School yang diawali sekitar satu atau dua sekolah ini, akan meluas menjadi gerakan di sekolah se-Kota Jogja.

"Pantib itu kan berbicara value [nilai], semua segmen masyarakat harus tahu dan ikut berpartisipasi. Termasuk nanti ke depan akan kami kembangkan Pantib for Corporation. harapan kami, penanaman nilai-nilai itu bisa menjadi virus di semua segmen masyarakat," kata dia.

Sebelumnya diketahui, aksi vandalisme kembali terjadi di kompleks Monumen Serangan Oemoem 1 Maret (SO1M), Jumat (15/2/2019) malam. Wujudnya, corat-coret berbentuk tujuh tapak tangan bercat dengan ukuran kecil hingga sedang, di relief bergambar perjumpaan Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan Letkol Soeharto dan HB IX. Dari 25 relief yang ada, lima diantaranya menjadi korban vandalisme. Selain itu, ada pula bekas cipratan cat di sisi belakang. Pada sisi lantai plasa dan tembok juga ditemukan cipratan cat.

Kepala Museum Benteng Vredeburg Jogja, Suharja menyesalkan tindakan tidak terpuji tersebut, apalagi yang menjadi sasaran adalah sebuah relief cerita sejarah. Ia menduga, dari tapak yang terbentuk, pelaku berusia anak hingga remaja, namun jajarannya belum mengetahui pelaku sebenarnya. Aksi ini bukan kali pertama terjadi di kompleks monumen, sehingga pihak pengelola akan melakukan antisipasi lebih, misalnya menambah sirkuit kamera televisi tersembunyi dan pengawasan petugas.