Advertisement

DISKUSI KAMPUS: Berebut Penafsiran Sedang Tren

Herlambang Jati Kusumo
Sabtu, 02 Maret 2019 - 10:10 WIB
Laila Rochmatin
DISKUSI KAMPUS: Berebut Penafsiran Sedang Tren Dialog kebangsaan Islam, Kebangsaan, dan Perdamaian. Kegiatan ini digelar dalam rangka rangkaian kegiatan Milad ke-76 UII, di Auditorium Prof. Dr. Abdulkahar Mudzakkir, Kamis (28/2/2019). - Ist

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN--Ada kekerdilan dalam memahami Indonesia. Beberapa pihak memaksakan hasil penafsirannya kepada orang. Berebut penafsiran sedang popular.

Hal ini mengemuka dalan dialog Kebangsaan bertema Islam, Kebangsaan, dan Perdamaian yang diselenggarakan Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Orwil DIY. Kegiatan ini digelar dalam rangka Milad ke-76 UII, di Auditorium Prof. Dr. Abdulkahar Mudzakkir, Kamis (28/2/2019).

Advertisement

Dalam kesempatan itu Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan awal pergerakan yang pronilai kebangsaan dengan semangat al-Hujarat: 13, Islam ingin setiap bangsa dan negeri yang barokah, seperti halnya doa Nabi Ibrahim, ada nilai-nilai taqwa dan iman sebuah konstruksi kebangsaan seperti dalam surat al-A’raf.

Haedar Nashir menangkap ada kekerdilan cara memahami Indonesia. Sering cara membaca dan mengonstruksi Islam Indonesia menggunakan tafsirnya sendiri, bahkan dipakai untuk memukul pihak lain, bahkan menyempitkan penafsiran pihak lain, sehingga berebut penafsiran.

Kekerdilan cara orang mengonstruksi Islam, juga Islam muncul sebagai identitas. “Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang membangun peradaban akhlak mulia. Narasi itu muncul, tetapi kehilangan makna yang substantif. Lebih-lebih ketika Islam ditarik ke dalam ranah politik, konstruksi menjadi sangat kacau dan berbahaya,” kata dia.

Kekerdilan cara mengonstruksi Islam, menjadikan Islam muncul di tingkat kehidupan orang kerdil, dan yang muncul adalah konstruksi survei. “Misal masjid radikal dan lainnya, dinarasikan dengan pemahaman jangka pendek. Survei dalam metodologi kelimuan oke, tetapi menjadikan satu-satunya identitas bisa menjadi sesat pikir,” ucapnya.

Budayawan Emha Ainun Nadjib, mengatakan Islam asasnya manfaat bukan kompetensi seperti yang ada di globalisasi. Dalam Islam tidak ada asas kompetensi adanya asas manfaat. Islam tidak membicarakan tafsir tetapi tadabbur.

“Kamu tidak pintar tidak papa yang penting apa setelah itu yang keluar. Sehingga keluarnya rahmatan lil alamin bukan lin naas. Bukan rahmatan lin nas, rahmatan li anfusihim. Penjajahan sekarang bukan teritorial tapi secara moral budaya dan lain lain,” ungkapnya.

Disampaikan pria yang kerap disapa Cak Nun itu, rumusnya dakwah adalah bil hikmah, bukan bil haq, bil khiar, atau bil ‘ilmi. Dakwah harus selalu dengan hikmah. Kata Tawasau dalam surat al-‘Ashr itu bukan saling mengingatkan tetapi saling sabar.

Rektor UII Fathul Wahid dalam sambutannya menyampaikan Indonesia, menjadi contoh yang indah. Indonesia dibangun di atas keragaman. Sejak berdirinya, republik ini tersusun dari anak bangsa dengan beragam latar belakang: suku, bahasa, dan agama. Keragaman ini oleh para pendiri bangsa telah dirangkai menjadi mozaik yang indah, yang diikat dengan persatuan.

“Sebaliknya, hanya mengedepankan perbedaan akan menggadaikan hati nurani. Karenanya, di era pascakebenaran yang lebih mengedepankan emosi dibanding fakta, mengembangkan lensa kolektif yang dapat menerima keragaman dengan ikhlas, menjadi sangat menantang,” ucap Fathul.

“Dalam banyak kasus, yang berbeda bisa saling melengkapi ketika nilai-nilai abadi seperti kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan tidak dilanggar. Semangat ko-eksistensi perlu dijaga dan dipupuk,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

News
| Sabtu, 04 April 2026, 23:47 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement