Problem TPST Piyungan Harus Diatasi Menggunakan Teknologi

Pembuangan sampah di TPST Piyungan, Bantul, Jumat (29/3/2019). - Harian Jogja/Desi Suryanto
01 April 2019 06:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Persoalan sampah di TPST Piyungan, Bantul, harus diselesaikan menggunakan teknologi. Meski tak mudah, mengolah sampah menjadi energi listrik bisa menjadi salah satu alternatif yang diusulkan.

Anggota DPD RI, GKR Hemas, mengatakan krisis penanganan sampah di TPST Piyungan yang kembali mencuat dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatiannya. Dia mengaku sudah membicarakan persoalan itu dengan Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti dan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. Menurutnya, polemik muncul karena ada keinginan warga untuk menjadikan kawasan Piyungan menjadi lahan yang berbeda. "Masalah sampah ini tidak mudah penanganannya," katanya kepada wartawan di Jogja National Museum, Minggu (31/3/2019).

Untuk penanganan jangka panjang, Hemas mengusulkan agar lokasi tersebut dijadikan lokasi pengolahan sampah menjadi energi listrik. Hal yang sama juga diterapkan di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, di mana sampah diolah menjadi proyek percontohan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). "Di sana [Bantar Gebang] ada pengolahan sampah untuk energi listrik," katanya.

Pemda DIY berencana melibatkan swasta untuk mengelola TPST Piyungan. Saat ini Pemda tengah menyusun dokumen kajian awal sebelum menyusun dokumen pelelangan proyek. Keputusan tersebut diambil karena pengelolaan sampah lebih mendesak dilakukan mengingat kapasitas TPST Piyungan yang sudah melebihi kapasitas.

Kepala Balai Pengelola Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kuncoro Hadi Purnomo, mengatakan lokasi TPST Piyungan sudah tidak ideal namun masih bisa dioptimalkan. Meskipun bisa dioptimalkan, kapasitasnya masih bisa dimanfaatkan hingga maksimal 2021. "Penggunaan teknologi bisa saja dilakukan. Hanya saja model seperti apa yang cocok masih butuh kajian. Apalagi yang masuk ke TPST Piyungan tidak semua yang masuk residu," katanya.

Seharusnya, kata Kuncoro, yang masuk ke TPST Piyungan berupa residu. Hal ini menunjukkan persoalan sampah lebih banyak terjadi di wilayah hulu. Jika masyarakat benar-benar memilah sampah dari sejak dari rumah, hal itu bisa menekan jumlah sampah yang masuk ke TPST. Sosialisasi pemilihan sampah dari warga dinilai masih bagus. "Persoalannya, tidak ada yang bisa memantau sampah dari hotel, apartemen, pasar modern serta perumahan. Siapa yang bisa memantau sampah dipilah dari lokasi-lokasi tersebut?" katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Suyana, mendorong warga untuk memilah sampah sejak dari rumah. Selama ini sampah dari Jogja yang dikirim ke TPST Piyungan setiap hari sekitar 250 ton. DLH juga berharap agar warga memaksimalkan keberadaan 470 bank sampah di 14 kecamatan untuk mengurangi sampah. "Sampah anorganik bisa disetor ke bank sampah, dan yang organik bisa dibuat kompos," katanya.