TEKNOLOGI DISRUPTIF: Kurikulum Akuntansi Harus Dimodifikasi

Uli Febriarni
Uli Febriarni Rabu, 10 April 2019 07:17 WIB
TEKNOLOGI DISRUPTIF: Kurikulum Akuntansi Harus Dimodifikasi

Ilustrasi wisuda mahasiswa. (Reuters/Fabian Bimmer)

Harianjogja.com, BANTUL--Kurikulum pendidikan jurusan akuntansi perlu dimodifikasi agar relevan dengan teknologi disruptif. Hal itu untuk mempersiapkan mahasiswa yang dapat menghadapi tantangan dan memiliki keterampilan pembaruan.

Salah satu pembicara kunci International Conference on Accounting and Finance (5th ICAF 2019), Ousama Abdulrahman A. Anam menjelaskan perkembangan teknologi tak dapat dicegah sehingga yang bisa dilakukan adalah menghadapinya, kemudian mengaplikasikan dan mengambil keuntungan darinya. Untuk itu, setiap orang harus mempersiapkan diri.

"Sebagai tenaga pendidik di bidang akuntansi, kami harus memberikan pengetahuan matematika, statistik, teknologi informasi, basis data dan pembelajaran mesin. Khususnya yang berhubungan dengan akuntansi kepada mahasiswa," kata dia dalam kegiatan bertema Accounting Challenge and Risk of Disruptive Technology, di Gedung KH. Ibrahim, lantai V Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (9/4/2019).

Menurut akademisi dari Qatar University ini, saat ini dunia memasuki era semua informasi dapat diakses dengan mudah, karena dukungan teknologi dan jaringan Internet yang semakin canggih. Kecanggihan teknologi tentu saja memiliki dampak positif dan negatif dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perlu mempersiapkan diri dengan cara yang relevan dalam era teknologi disruptif. Termasuk pula di bidang akuntansi.

Institusi pendidikan memang seharusnya bisa beradaptasi dengan perkembangan tersebut. Meski memang ada risiko besar yang harus dihadapi, tetapi penting untuk menanamkan kepada mahasiswa tentang pilihan apa yang seharusnya mereka ambil di era teknologi disruptif. "Mereka harus memilih untuk beradaptasi atau hancur,” kata dia.

Akademisi International Islamic University Malaysia, Prof. Maliah Bt. Sulaiman mengatakan ada banyak tantangan yang harus dihadapi oleh profesi akuntan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat karena teknologi itu sedikitnya telah mengambil alih tugas akuntan. Seperti mesin penghitung canggih yang gunanya untuk meminimalkan kesalahan manusia.

“Nilai sosial memang sangat berkurang sejak era teknologi disruptif, tenaga manusia mulai jarang digunakan dan lebih banyak dibebankan kepada teknologi. Artinya harus ada cara tepat, kesadaran diri dan punya aksi nyata.” tuturnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online