Kampung Kepuh-Balapan Resmi Jadi KTB di Jogja

Salah satu adegan saat digelarnya simulasi bencana gempa bumi di Lapangan RW 14, Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Minggu (21/4/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
21 April 2019 14:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sekitar 200 warga dari Kampung Kepuh dan Balapan di Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, mengikuti simulasi penanganan gempa bumi, di Lapangan RW 14, Klitren, Minggu (21/4/2019). Simulasi ini menjadi puncak kegiatan sosialisais tanggap bencana dari Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Jogja terkait dengan perintisan Kampung Tangguh Bencana (KTB).

Kepala Pelaksana BPBD Kota Jgja, Hari Wahyudi, mengatakan KTB merupakan upaya pemerintah mengajak masyarakat untuk menjadi agen pengurangan risiko bencana. Ia berharap sukarelawan yang terdaftar dalam KTB bisa menyebarkan ilmu tentang penanggulangan bencana yang telah dipelajari dalam satu bulan terakhir.

Sebelum simulasi, masyarakat Kepuh dan Balapan terlebih dahulu diberi materi-materi dasar tentang penanggulangan bencana. BPBD memberi pelatihan materi tersebut dalam 14 kali pertemuan. “Puncaknya, digelar simulasi bencana. Saya harap KTB bisa menularkan ilmunya lewat berbagai media dan ajang, seperti melalui obrolan, PKK, angkringan,” katanya.

Camat Gondokusuman, Guritno, mengapresiasi warga yang telah bersedia terlibat dalam simulasi bencana ini. Dia berpesan agar KTB Kepuh-Balapan tidak sekadar mencatatkan namanya saja dala daftar KTB Jogja, tapi harus bisa berkontribusi pada Jogja. “Bisa jadi semangat bersama dari masyarakat, pemerintah untuk nyengkuyung segala bentuk kebaikan,” katanya.

Pada tahap penyuluhan, BPBD dan warga telah menganalisis potensi bencana apa saja yang dimiliki Kelurahan Klitren, diantaraya gempa bumi, angin kencang, kebakaran dan erupsi Merapi. Setelah mengetahui potensi bencananya, baru dipelajari bagaimana antisipasi dan penanggulangannya.

Fasilitator BPBD Jogja, Suprabowo, menjelaskan setiap bencana dan lokasi memiliki tingkat kerentanan masing-masing. Sebut saja misalnya di Klitren, dengan potensi bencana gempa bumi, yang menjadi kerentanan adalah rumah yang tidak tahan gempa dan jalur evakuasi yang sempit.

Ada pula kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil dan anak-anak, yang menjadi prioritas dalam penanggulangan bencana. Dalam simulasi ini, disediakan pula ambulans, dapur umum, pos kesehatan, tenda pengungsi, mobil bak terbuka dan keperluan situasi darurat lainnya.

Simulasi dimulai dengan terjadinya gempa bumi, lalu evakuasi oleh sukarelawan di sejumlah titik, kemudian korban dan warga lainnya dikumpulkan di tenda pengungsian, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. “Masyarakat di sini diberi pemahaman, kalau terjadi gempa harus bagaimana,” kata Suprabowo.

Setelah simulasi, sekitar 40 anggota KTB Kepuh-Balapan dikukuhkan. Mereka juga akan mendapat bantuan dari pemerintah berupa peralatan penanggulangan bencana seperti sepeda motor roda tiga, genset, mesin pompa, mesin gergaji, dan tali-temali. “Kami menargetkan tahun ini akan menambah sembilan KTB, sehingga jumlahnya menjadi 110 KTB,” ucap dia.