Warga Memaknai Nyadran Sebagai Budaya Gotong Royong

Warga berebut gunungan yang sebelumnya sudah dikirab pada Sabtu (27/4/2019) di Depan Gerbang Rumah Dinas Bupati Kulonprogo. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan.
29 April 2019 08:47 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES--Ratusan warga tumpah ruah di Depan Gerbang Rumah Dinas Bupati Kulonprogo untuk ikuti acara nyadran agung pada Sabtu (27/4/2019). Nyadran agung yang digelar sebelum dimulainya Bulan Puasa itu dimaknai sebagai bentuk budaya gotong royong warga.

Kepala Pani Radya Pati DIY, Beni Suharsono mengatakan nyadran agung merupakan budaya leluhur yang harus dilestarikan. Menurutnya nyadran atau sadranan merupakan ungkapan refleksi sosial keagamaan dan adanya hubungan dengan para leluhur.

Nyadran agung dilakukan menjelang bulan puasa. "Nyadran ialah ritual penghormatan pada leluhur. Syukur dengan doa, sebagai timbal balik adanya rejeki yang akan datang," ujar Beni pada Sabtu (27/4/2019).

Ia menjelaskan, nyadran tidak hanya menjalankan ritual-ritual seperti membersihkan makam, kenduri, atau tradisi berebut kue apem. Tapi menurutnya, lebih dari itu ada ajang silaturahmi yang melekat di masyarakat.

"Nyadran bukan hanya nyekar ke makam. Tapi ada nilai budaya gotong royong kebersamaan kasih sayang sesama masyarakat," jelasnya. Ia berharap, budaya nyadran ini juga dapat dilestarikan dan dilanjutkan pada generasi muda.

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengatakan nyadran merupakan salah satu budaya yang harus dilestarikan. "Saya berharap nyadran terus diuri-uri. Ada nilai dari nyadran agung ini yaitu bentuk sifat toleransi dan budi luhur yang tinggi," kata Hasto pada Sabtu.

Nyadran agung ditandai dengan kirab gunungan apem, gunungan tumpeng, dan gunungan hasil bumi. Ada 17 gunungan yang dikirab pada acara Nyadran Agung, terdiri dari 12 Kecamatan di Kulonprogo, tiga gunungan dari Pemda dan dua gunungan dari BUMD.

Gunungan tersebut diarak mulai dari Depan Kantor DPRD Kulonprogo dan berakhir di depan Gerbang Rumah Dinas Bupati Kulonprogo. Di akhir acara warga berebut gunungan tersebut dan bersuka cita.