Kurangi Sampah, Acara Buka Bersama Diimbau Pakai Piring

ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender
16 Mei 2019 04:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Bulan Ramadan di Jogja diramaikan dengan banyaknya kegiatan menjelang buka puasa, mulai dari pasar sore hingga berbagi takjil di masjid-masjid. Banyaknya kegiatan berbuka di luar rumah ini otomatis juga berdampak pada banyaknya sampah kemaasan makanan yang dihasilkan.

Kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Suyana, mewanti-wanti kepada masyarakat utnuk mengurangi produksi sampah. Pengurangan sampah sampai dengan tahun 2025, ia targetkan bisa mencapai sebesar 30%.

Imbauan ini semakin digencarkan setelah aksi penutupan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Piyungan oleh warga sekitar pada Maret lalu, karena tidak ada penanganan dari pemerintah terkait sampah yang semakin membludak dan mengganggu aktivitas warga.

Untuk itu ia berharap masyarakat dapat mengurangi produksi sampah, salah satunya dengan mengganti wadah makanan dan minuman. Wadah makanan yang biasanya menggunakan box, diganti dengan piring jika memungkinkan. Wadah minum yang biasanya pakai gelas atau botol plastik, diganti dengan gelas atau tumbler.

"Nggak perlu usaha berdarah-darah, cukup dengan mengganti kebiasaan pakai box jadi pakai piring," katanya kepada Harianjogja.com melalui telepon, Selasa, (14/5/2019).

Meski demikian, ia belum bisa memperkirakan pertambahan volume sampah selama Ramadan. Katanya, ia mendapat laporan volume sampah sebulan sekali. “Nanti kalau sudah selesai puasanya baru bisa diketahui,” katanya.

Di Jogja, hampir semua masjid besar memiliki kegiatan buka bersama setiap hari selama Ramadan. Salah satu masjid yang telah menggunakan piring dalam menyajikan buka adalah Masjid Jogokaryan. Setiap harinya masjid ini menyediakan sekitar 2.500 porsi untuk buka bersama.

Ketua Takmir Jogokaryan,  mengatakan masjidnya memilih menggunakan piring daripada boks agar para jamaah bisa menikmati sajuan buka di masjid saat itu juga. Ia khawatir jika menggunakan boks, banyak jamaah yang akan membawa makanannya pulang.

Kata dia, ini juga merupakan amanah dari para donatur. “Mereka pengen para jamaah bisa berbuka di masjid, bukannya di bawa pulang,” katanya.