Stasiun Penunjang Bandara Baru Masih Jadi Tempat Mojok dan Dianggap Angker

jJayan berada di Stasiun Kedundang yang dulu pernah menjadi tempatnya bekerja, Minggu (19/5/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
21 Mei 2019 16:12 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Stasiun Kedundang di Kulonprogo akan dihidupkan lagi untuk menunjang Kereta Api Bandara menuju Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA). Bagaimana kondisinya saat ini? Berikut laporan wartawan Harian Jogja Fahmi Ahmad Burhan.

 Stasiun yang tidak terpakai lagi berada di pinggir dua rel kereta api. Luasnya sekitar 75 meter persegi. Sebuah plang dengan tulisan Kedundang dan logo PT KAI masih terpampang di bangunan itu. Sementara, tembok-tembok dipenuhi aneka coretan yang tidak jelas.

Minggu (19/5/2019) siang bolong, sepasang remaja sedang berduaan, masing-masing memandangi gawai.

Kereta api dari arah barat maupun timur silih berganti melintas di siang itu. Setelah pergi, seorang pria datang. Berpakaian baju belang putih merah dilengkapi peci hitam, ia datang mengayuh sepeda.

Dia disebut warga sekitar sebagai kuncen (juru kunci) Stasiun Kedundung. Ia juga yang merawat tanaman apa saja di sekitaran rel dekat stasiun itu. Bahkan rumput-rumput pun ia pelihara. “Buat pakan ternak,” kata Jayan, pria itu.

Puluhan tahun, saat masih muda, Jayan petugas stasiun. Setelah bekerja di Stasiun Wates, pada 1991 ia dipindah ke stasiun dekat rumahnya di Dusun Trukan, Desa Kulur, Kecamatan Temon, Stasiun Kedundang. “T ugasnya banyak, menjaga pelintasan, sampai bersih-bersih juga,” kata pria berusia 69 tahun itu.

Di awal 2000-an ia pensiun. Aktivitasnya kini pergi ke sawah dan ladang, juga mencari rumput di sekitar rel untuk sapi peliharaannya.

Jayan adalah satu-satunya warga sekitar Stasiun Kedundang yang pernah menjadi pegawai stasiun sehingga sampai sekarang, tetek bengek yang berkaitan dengan stasiun paling barat di DIY itu ia yang urus.

“Sekarang [Stasiun Kedundang] malah angker,” ucap Jayan.

Pernah suatu saat seorang warga pada sore hari sedang mencari rumput di dekat stasiun, tak ada hujan tak ada petir, orang itu pingsan. “Sampai 10 hari semaput, saya bawa ke rumah sakit,” ujar Jayan.

Ia percaya Stasiun Kedundang ada penunggunya. Ketika ditanya apakah stasiun itu sering dipakai hal-hal aneh seperti tempat mesum, ia yakin tidak ada orang yang berani mesum di sana.

Beda dulu beda sekarang. Stasiun Kedundang tempat dulu Jayan mencari nafkah ramai dipakai warga untuk menunggu kereta tiba.

Kenangan puluhan tahun lalu masih diingat oleh warga Dusun Trukan, Desa Kulur, Kecamatan Temon, Eko Wahyu Mulyanto. Kala itu, ia masih duduk di bangku SMP. Pria kelahiran 1963 itu sering memakai sepur bernama Kuda Putih.

“Kalau saya sekolah itu sering pakai kereta, apalagi kalau liburan, main ke Jogja ya pasti pakai kereta. Naiknya di Stasiun Kedundang,” kata pria yang kini bekerja sebagai pembantu kepala desa itu.

“Dulu keretanya masih pakai uap, saya ke Stasiun Wates dari Kedundang itu bayarnya cuma Rp50,” ujar Eko.

Rumahnya tidak jauh dari Stasiun Kedundang, hanya berjarak sekitar 50 meter. Ia mengamati, semakin ke sini, moda transportasi sudah semakin berkembang. Orang-orang yang dulunya mengandalkan kereta dan naik dari Stasiun Kedundang ke tempat tujuannya mulai beralih ke moda transportasi lain atau juga malah sudah punya kendaraan pribadi. “Yang saya ingat hanya Kereta Kuda Putih, itu terakhir kali saya naik kereta dari Stasiun Kedundang,” ucapnya.

Jalur Baru

Stasiun Kedundang pada 2007 lalu ditutup dengan alasan efisiensi. Awalnya, stasiun itu dibangun hanya untuk stasiun persilangan kereta api sewaktu masih menggunakan jalur tunggal.

Sehubungan dengan beroperasinya YIA, Stasiun Kedundang kini akan dipakai lagi. Stasiun tersebut dirancang menjadi titik persinggahan sebelum berangkat ke Stasiun YIA.

Pembebasan lahan sudah mulai dilakukan untuk membuat jalur kereta api itu. Puluhan rumah, ratusan bidang sawah dan sedikit tanah desa akan terkena dampak.

Warga Dusun Siwates, Suwarni mengaku sudah pasrah satu rumah dan sebidang tanahnya dibebaskan untuk pembangunan jalur kereta api dari Stasiun Kedundang ke Stasiun YIA. “Sebenarnya berat, tapi untuk kepentingan negara ya tidak apa-apa,” katanya.

Ia mengaku rumahnya banyak menyimpan kenangan. "Bahkan yang buat rumah, sudah meninggal.”

Di depan rumah Suwarni ada sebuah masjid keluarga yang juga bakal tergusur. Masjid itu baru dibangun 2014 lalu. Ia ikhlas rumahnya raib, asalkan harga untuk pembebasan lahan sepadan. "Saya perkirakan harga bangun rumah ini dulu Rp200 juta, ya harapannya nanti uang ganti rugi bisa dipakai buat rumah lagi," katanya.

Suwarni sudah menerima kabar tentang pembangunan jalur keret api sejak jauh-jauh hari baik dari PT KAI maupun Pemkab Kulonprogo. Di desanya, Desa Kaligintung, Kecamatan Temon, ada 11 rumah yang akan tergusur.

Rencananya, jalur kereta api itu akan menghubungkan Stasiun Kedundang yang lama tidak aktif dan tidak terawat ke sebuah Stasiun di YIA.

Kepala PT KAI Daops 6 Yogyakarta, Eko Purwanto mengatakan pembangunan jalur kereta api menuju YIA dimulai dengan tahap konstruksi di tahun ini. "Informasinya konstruksi tahun ini. Dimulai dari Stasiun Kedundang. Stasiunnya akan dibuat baru," jelas Eko.