Digempur Perkembangan Zaman, Hotel Murah Tradisonal di Jogja Bisa Diselamatkan

Region Head Java OYO Indonesia Bayu Seto (dua kiri) dan Head of PR and Communication OYO Indonesia Meta Rostiawati (kiri) saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja, Jumat (24/5/2019). - Harian Jogja/Bhekti Suryani
24 Mei 2019 13:07 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Jaringan hotel asal India, OYO Hotels berekspansi ke Jogja. OYO mendorong hotel low budget tradisional di Jogja  yang terpuruk karena gempuran industri hotel modern bisa kembali bergairah.

Head of PR and Communication OYO Indonesia Meta Rostiawati menyatakan, Jogja sebagai kota wisata sejatinya bertebaran hotel low budget konvensional milik warga. Hotel murah itu kini tengah bersaing dengan hotel budget berjejaring internasional yang lebih modern maupun berkompetisi dengan hotel bintang.

Kebanyakan hotel low budget konvensional itu kolap dan sebagian lagi tengah berupaya bertahan hidup di tengah gempuran industri hotel modern. Padahal kata dia, bila dikelola dan dimanajemen dengan baik, hotel-hotel konvensional yang banyak menghidupi perekonomian warga sekitar tersebut sejatinya bisa bersaing dan bergairah.

Manajamen yang baik misalnya meningkatkan akses teknologi, pemasaran yang tepat serta fasilitas yang mengikuti standar internasional namun tetap bertarif murah. OYO kata dia bisa berperan memfasilitasi hotel low budget konvensional itu agar bisa bersaing di era sekarang. Kebanyakan hotel-hotel murah milik warga itu kolap karena tak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Banyak hotel low budget yang lokasinya nyempil jadi wisatawan tidak tahu, padahal itu lokasinya dekat dengan Malioboro,” kata Meta saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja, Jumat (24/5/2019).

Ada pula hotel yang berlokasi jauh dari tengah kota namun punya suasana yang sangat nyaman, sayangnya tak banyak wisatawan tahu. Hotel-hotel seperti itu menurutnya perlu didorong secara masif promosinya dan ditingkatkan kapasitas manajemennya. Apalagi saat ini banyak wisatawan yang memilih menginap di hotel non-mainstream karena berorientasi pada wisata petualangan namun murah.

Hotel-hotel low budget itu kata dia juga bisa menjadi pilihan bagi wisatawan terutama saat peak season atau saat okupansi mayoritas hotel di Jogja penuh. Hotel bertarif murah antara Rp150.000-Rp250.000 per malam itu juga bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang tak mau merogoh biaya besar hanya untuk berwisata ke Jogja. “Kadang kalau musim liburan hotel di Jogja tahunya kebanyakan penuh, padahal masih banyak hotel-hotel lain yang murah, tapi wisatawan tidak tahu,” papar dia.

Region Head Java OYO Indonesia Bayu Seto mengatakan, saat ini sudah ada 67 hotel low budget di Jogja yang bermitra dengan OYO, sejak lembaga ini hadir di Jogja Januari 2019. “Salah satu kekhasan OYO, kami tidak akan mengubah nama hotel, tapi kami akan membantu manajemennya agar update terhadap perkembangan teknologi, serta room yang sesuai standar internasional serta membantu pemasaran. Misalnya standar ruangan harus seperti apa, warna cat hotel, tapi kekhasan yang dimiliki hotel konvensional itu tidak dihilangkan,” papar dia.

Hotel yang bermitra dengan OYO kata dia otomatis akan masuk ke jaringan pemasaran OYO. Pemasaran tersebut akan membantu hotel low budget yang bermitra untuk mendapatkan pelanggan. Saat ini ada 500 hotel di Indonesia yang bermitra dengan OYO sejak bisnis waralaba ini hadir di Indonesia pada Oktober 2018.   OYO yang lahir pada 2013 saat ini sudah hadir di berbagai negara dunia, baik Asia, Eropa maupun Amerika kecuali Afrika.